MATAHARI pukul dua siang di Ring Road Selatan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY, tepatnya di persimpangan jalan tak jauh dari kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), terasa menyengat hingga ke ubun-ubun. Aspal hitam yang membentang seolah mengeluarkan uap panas yang menari-nari di atas permukaan jalan, menciptakan fatamorgana di antara deru mesin kendaraan yang tak pernah putus.
Debu-debu jalanan yang beterbangan disapu angin kencang dari bus antarkota membuat jarak pandang sesekali memutih, memaksa siapa pun yang melintas untuk memicingkan mata demi menghindari perih.
Suasana siang itu benar-benar tidak memberi ruang bagi keteduhan, bahkan bagi mereka yang hanya melintas beberapa detik di atas kendaraan berpendingin udara. Namun, di tengah gempuran panas yang ekstrem dan kebisingan yang memekakkan telinga dari deru mesin yang berat, berdiri sosok-sosok penjaga simpang tanpa seagam yang mempertaruhkan nyawa demi ketertiban yang rapuh. Mereka bukan sekadar individu yang kebetulan lewat, melainkan bagian dari sebuah ekosistem "polisi tak berseragam" yang memiliki aturan dan ritme sendiri di atas aspal jalur cepat.
Harmoni di Balik Sif Jalur Ring Road SelatanFenomena Pak Ogah di titik putar balik (U-turn) tak jauh dari kampus UMY ternyata dikelola dengan kesepakatan informal yang sangat ketat. Di balik kibasan bendera dan tiupan peluit, terdapat pembagian waktu kerja atau "sif" yang bertujuan untuk menjamin setiap pengais rezeki mendapatkan jatahnya secara adil tanpa harus terlibat konflik di tengah jalan.
Salah satu pengatur sif pagi adalah Bambang Purnomo (45). Pria bertubuh tegap ini biasanya sudah berdiri di tengah aspal sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Bagi Bambang, sif pagi adalah tantangan psikologis tersendiri.
Bambang menekankan bahwa sistem sif ini sangat krusial bagi keberlangsungan hidup mereka. Menurutnya, koordinasi antar-penjaga memastikan tidak ada penumpukan orang di satu titik yang justru bisa mengundang penertiban dari petugas resmi.
Setelah matahari melewati puncaknya, barulah sosok Agus Slamet (69) muncul mengambil alih peran. Ia bertugas biasanya dimulai dari pukul 12.30 hingga 16.00. Dengan kulit yang legam terbakar matahari dan keriput wajah yang menyimpan debu jalanan, Agus memulai tugasnya saat volume kendaraan mulai merangkak naik menuju puncak kepadatan sore hari. Ia sering kali harus berhadapan dengan truk tronton bermuatan pasir yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Menjelang senja, peran penjaga sering kali diisi oleh tenaga yang lebih muda, salah satunya adalah Rian Syahputra (29). Sebagai representasi generasi yang lebih muda, Rian membawa energi yang berbeda di lapangan. Ia sering kali mengisi sif fleksibel atau menggantikan rekan lain yang sedang berhalangan. Rian mengakui bahwa pekerjaannya ini sering dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sebagai premanisme oleh sebagian orang.
Ia menceritakan bahwa untuk bisa berdiri di tengah jalan raya yang lebar, ia harus belajar "membaca" kecepatan kendaraan dari jauh.
Ekonomi "Receh" dan Taruhan Nyawa di Sepanjang Ring Road SelatanSinar matahari yang mulai meredup menyinari debu jalanan saat mesin motor menderu rendah di persimpangan. Seorang pemotor dengan helm merah muda memperlambat lajunya, tangannya terulur memberikan apresiasi kecil Rp2.000. Agus, dengan rendah hati ia menerima pemberian itu dengan anggukan kecil yang tulus—sebuah transaksi tanpa kata yang menjadi detak jantung keseharian di jalanan kota. Bagi para penjaga ini, Ring Road Selatan bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan ruang bertahan hidup yang keras. Di titik inilah mereka menggantungkan seluruh napas dapur keluarga tanpa adanya kepastian gaji bulanan atau jaminan kesehatan. Nominal yang mereka dapatkan sepenuhnya bergantung pada kerelaan hati para pengendara yang merasa terbantu.
Agus mengaku bahwa dalam satu sif siang hingga sore, ia biasanya membawa pulang sekitar Rp30.000–Rp35.000. Jumlah yang sangat kecil ini sering kali langsung habis untuk kebutuhan makan dasar tanpa meninggalkan sisa sedikit pun untuk tabungan hari esok. Kondisi serupa dialami oleh Bambang dan Rian. Bagi mereka, setiap koin dan lembar dua ribu rupiah adalah bayaran atas risiko digilas roda kendaraan.
Meski risiko yang diambil sangat besar, mereka tetap memegang prinsip kerja yang humanis.
Prinsip ini dipegang teguh agar pekerjaan mereka tidak berubah menjadi pemerasan atau paksaan yang justru merusak hubungan sosial dengan masyarakat sekitar. Rian menambahkan bahwa kerelaan pengendara adalah bentuk validasi atas jasa mereka.
Simpang Dilema: Kebutuhan versus Absennya NegaraKawasan Ring Road Selatan di sekitar UMY merupakan jalur cepat antarwilayah yang sekaligus menjadi akses harian ribuan mahasiswa. Jalan ini dirancang untuk kelancaran mobilitas tinggi, bukan untuk berhenti terlalu lama. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan titik putar balik yang aman. Di sejumlah titik tersebut, tidak terdapat lampu lalu lintas atau fasilitas penyeberangan yang memadai. Dalam kondisi inilah Agus, Bambang, dan Rian menjalankan perannya di ruang abu-abu antara kebutuhan praktis dan risiko keselamatan.
Muhammad Affan Al Ikhsan, mahasiswa yang setiap hari mengendarai mobil ke kampus, mengakui bahwa keberadaan para penjaga informal ini sangat membantu, terutama pada jam sibuk.
Baginya, uang dua ribu rupiah adalah harga yang sangat murah dibandingkan risiko mobilnya ditabrak atau lecet akibat memaksakan diri memutar balik.
Pengalaman serupa dirasakan oleh pengendara motor seperti Asya Anavalis Kustiana. Ia menilai posisi pengendara motor jauh lebih rentan di jalur cepat tanpa perlindungan memadai.
Asya menceritakan pengalamannya saat hujan deras mengguyur; meskipun jarak pandang terbatas dan jalanan licin, para penjaga ini tetap berdiri teguh dengan jas hujan plastik seadanya demi menjaga ritme kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan.
Antara Survival dan Batas PremanismeFenomena Pak Ogah ini mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas, menyangkut masalah ekonomi, infrastruktur, dan keselamatan publik. Dosen Sosiologi UMY, Filosa Gita Sukmono, menilai bahwa praktik tersebut merupakan manifestasi dari tekanan ekonomi yang tidak bisa dihindari.
Menurut Filosa, keberadaan para penjaga informal ini muncul untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh sistem formal. Ketika otoritas terkait belum sepenuhnya hadir menyediakan solusi keamanan di setiap titik rawan, masyarakat menciptakan mekanismenya sendiri untuk bertahan hidup. Namun, ia juga memberikan peringatan mengenai batas tipis yang harus dijaga agar praktik tolong-menolong ini tidak bergeser menjadi aksi premanisme.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari otoritas terkait mengenai rencana pembangunan fasilitas keselamatan permanen di titik tersebut. Selama solusi sistemik belum hadir menyentuh aspal jalanan ini, warga seperti Agus, Bambang, dan Rian akan terus mengisi ruang kosong tersebut demi bertahan hidup, meski harus berhadapan dengan maut setiap detiknya.
Bayang-bayang di Tikungan AkhirMenjelang sore, bayangan tubuh Agus sang penjaga jalan ini mulai memanjang di aspal yang mulai mendingin seiring dengan turunnya matahari. Cahaya jingga tidak lagi seterik siang, namun arus kendaraan justru semakin menggila menuju jam pulang kerja. Klakson yang bersahut-sahutan dan deru mesin yang konstan menciptakan simfoni kebisingan yang seolah tak pernah berakhir.
Di saku celana mereka, lembaran dua ribu rupiah dan koin-koin kecil beradu, menciptakan bunyi gemerincing yang tipis di setiap langkah mereka. Bunyi kecil itu menjadi penanda hasil peluh hari itu, sekaligus pengingat betapa rapuhnya sandaran hidup yang mereka miliki.
Selama fasilitas keselamatan resmi belum hadir menjamin setiap nyawa yang melintas, Agus, Bambang, dan Rian akan tetap setia berdiri di sana—mempertaruhkan sisa tenaga dan nyawa demi kepingan rezeki di jalur cepat yang nyaris tak pernah tidur.
Jika selembar dua ribu rupiah bisa membeli waktu dan keselamatan para pengendara, lantas berapa harga yang pantas untuk nyawa mereka yang berdiri tegak tanpa perlindungan di tengah aspal panas itu?




