JAKARTA, DISWAY.ID - Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto menyampaikan bahwa apa yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung terkait banjir Jakarta pada Januari 2026 berdasarkan data.
Pernyataan itu menanggapi kritikan yang menyebut Pramono keliru dalam menyebut peristiwa banjir karena cuaca ekstrem.
BACA JUGA:Mayapada Healthcare Raih Dua Penghargaan di Asian Management Excellence Awards 2026
BACA JUGA:Besok, Rocky Gerung Diperiksa Sebagai Saksi Ahli Meringankan soal Tudingan Ijazah Jokowi
Padahal, akibat intesitas hujan yang mencapai 200 hingga 267 milimeter per hari merupakan faktor utama meluasnya genangan di berbagai wilayah Jakarta.
Alhasil, sistem drainase dan pompa air tidak mampu bekerja secara optimal karena debit air yang terlalu banyak.
"Sangat logis jika Gubernur menjelaskan sebab utama peristiwa banjir yang terjadi, bukan menutup mata terhadap persoalan tata kelola jangka panjang," kata SGY dalam keterangan tertulis, Senin 26 Januari 2026.
BACA JUGA:Penguatan Pembangunan Nasional melalui Kolaborasi Satu Data Indonesia
BACA JUGA:Eggi Sudjana-Damai Lubis Laporkan Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin ke PMJ atas Pencemaran Nama Baik!
Ia menjelaskan, Jakarta menghadapi banjir yang kompleks. Mulai dari banjir kiriman, letak geografis, serta curah hujan tinggi.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hujan ekstrem terjadi ketika curah hujan melebihi 150 milimeter per hari.
Sementara itu, rata-rata curah hujan harian Jakarta dalam kondisi normal hanya sekitar 10–20 milimeter.
"Hujan 200 hingga 267 milimeter per hari setara lebih dari sepuluh kali lipat kondisi normal. Secara ilmiah, penjelasan tersebut tidak bisa dibantah," ucapnya.
Sugiyanto menambahkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), kerap disalahartikan, yang sejatinya untuk merubah arah awan agar tidak turun di Jakarta. Bukan mencegah hujan.
BACA JUGA:Jambret Ku Kejar, Tersangka Ku Dapat: Kejari Sleman Kabulkan Permohonan RJ Hogi Minaya!
- 1
- 2
- »




