Menjaga Masa Depan dari Balik Pintu Sekolah

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Sekolah bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang pertumbuhan. Di sanalah karakter, kebiasaan, dan pola hidup anak perlahan dibentuk. Lebih dari 53 juta anak Indonesia melewati sebagian besar waktunya di dalam ruang kelas, yang sejatinya menjadi tempat pertumbuhan, tetapi sekaligus titik paling rapuh ketika kesehatan diabaikan. Satu masalah kesehatan kecil dapat menjalar dengan cepat tanpa disadari.

Realitas di lapangan menunjukkan potret yang tidak sederhana. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, lebih dari separuh anak sekolah mengalami gangguan kesehatan gigi. Enam dari sepuluh kurang bergerak dan jarang berolahraga. Satu dari empat mengidap anemia, sementara jutaan lainnya menunjukkan gejala awal masalah kesehatan reproduksi dan tekanan darah tinggi. Jika angka-angka ini tidak membuat kita tertegun, apa lagi yang harus terjadi agar kita menyadari bahwa ancaman itu sedang bertengger di balik pintu kelas?

Ruang yang semestinya menjadi tempat tumbuh kembang ternyata menyimpan potensi krisis kesehatan bagi generasi masa depan bangsa. Gangguan kesehatan, sekecil apa pun, dapat menggerus konsentrasi, menghambat prestasi, bahkan menurunkan kualitas hidup dalam jangka panjang. Dengan banyaknya persoalan yang tersembunyi di balik rutinitas sekolah, kita tak dapat terus bersikap pasif tanpa mengupayakan deteksi dini sebelum tumbuh menjadi beban besar.

Di sinilah pentingnya pemeriksaan kesehatan di sekolah. Banyak anak tidak memahami keluhan tubuhnya, sementara orang tua sering tidak mengetahui atau memahami kondisi anak secara menyeluruh. Layanan yang mudah dijangkau memungkinkan deteksi sedini mungkin sebelum gangguan berkembang menjadi persoalan serius. Namun, deteksi saja tidaklah cukup. Pemeriksaan dini memberi kita peta risiko, tetapi tanpa perlindungan lanjutan, celah kerentanan tetap terbuka.

Dalam lanskap masalah yang kerap luput dari sorotan, perlindungan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah menjadi sama pentingnya. Imunisasi menjadi perisai yang menguatkan dan mencegah masalah kecil berkembang menjadi ancaman. Dua langkah ini tidak bisa dipisahkan dan perlu berjalan beriringan untuk menjaga kesehatan di sekolah.

Namun ironisnya, sebagian sekolah dan orang tua masih menolak imunisasi. Beberapa sekolah di 19 provinsi bahkan menolak pelaksanaannya. Data Kemenkes tahun 2025 menunjukkan, lebih dari 900 ribu anak Indonesia belum pernah menerima imunisasi dasar sejak mereka lahir (zero dose). Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka berdiri tanpa perisai? Ketika ancaman tetap mengintai, menolak imunisasi sama saja menciptakan celah pada benteng pertahanan generasi sendiri.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis hingga Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Sayangnya, mitos dan informasi keliru masih menjadi tembok penghalang. Anggapan bahwa pemeriksaan hanya diperlukan saat anak sakit, atau ketakutan bahwa imunisasi berbahaya, sebagian besar tidak memiliki dasar ilmiah. Di era digital, misinformasi di media sosial menyebar jauh lebih cepat daripada fakta. Satu unggahan keliru dapat memengaruhi ribuan orang dan menimbulkan ketakutan yang akhirnya menghambat layanan kesehatan yang justru dibutuhkan anak.

Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, ia bisa tumbuh dari pijakan kecil yang tampak sepele. Menjaga jemari untuk berhenti menyebarkan informasi yang keliru, dan memilih membagikan informasi yang benar dan dapat dipercaya, adalah bentuk perlindungan yang sama berharganya dari menjaga kesehatan itu sendiri.

Pada akhirnya, langkah sederhana yang kita mulai hari ini adalah fondasi bagi masa depan bangsa yang lebih sehat. Menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak di bangku sekolah bukan sekadar investasi, tetapi bentuk tanggung jawab kita terhadap generasi yang kelak menentukan arah negeri ini. Dari balik pintu sekolah, masa depan Indonesia sedang dibentuk dan kesehatan adalah fondasi pertama yang harus kita jaga bersama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Anggota DPR Cecar Menteri LH: Apa Harus Bencana Dulu Baru Ada Pencabutan Izin?
• 14 jam laludetik.com
thumb
Beli ORI 029 Minimal Rp 1 Juta, Begini Caranya!
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK dan BPK Periksa Bersama Tersangka dan Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji Tambahan
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Dadiyono Apresiasi Bantuan Sudin Sosial untuk Korban Banjir Petogogan
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Balap 24 Jam sebagai Laboratorium Teknologi Pelumas
• 9 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.