JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik kemegahan Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, sebuah fenomena sosial-ekonomi unik tersembunyi di balik tembok beton tinggi yang memisahkan pusat perbelanjaan modern dengan permukiman warga.
Warung-warung kaki lima, yang dikenal sebagai “Warung Bolong”, hadir di sela-sela tembok itu, menjadi titik temu bagi para pekerja lapangan, kurir, dan karyawan mall yang mencari makanan murah dan cepat.
Fenomena ini menarik perhatian sosiolog Rakhmat Hidayat dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Menurut Rakhmat, keberadaan warung-warung itu adalah bagian dari sektor informal perkotaan yang selalu muncul di sekitar pusat-pusat ekonomi formal.
“Di antara berkembangnya sektor formal seperti mall dan pusat perbelanjaan, selalu ada sektor informal warung, warteg, atau warung kelontong yang hidup secara sporadis. Ini ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: Harga Merakyat, Warung di Balik Dinding Mal Jadi Andalan Para Pekerja
Rakhmat menekankan konsep keterlekatan antara sektor formal dan informal. Mall-mall dan pusat perbelanjaan modern menjadi magnet ekonomi, sementara warung-warung informal tumbuh di sekitarnya, memanfaatkan aliran pekerja dan pengunjung.
“Walaupun secara fisik terpisah oleh tembok tinggi, secara sosiologis interaksi tetap cair. Warung informal itu hidup karena ada pusat ekonomi yang lebih besar,” ujar Rakhmat.
“Ini bukan hanya soal jualan, tapi juga ruang sosial ekonomi bagi masyarakat kelas tertentu,” lanjutnya.
Ia mencontohkan fenomena serupa di beberapa mall lain, seperti Kota Kasablanka dan Mall Kokas, di mana warung informal muncul di belakang batas tembok mall.
Menurut Rakhmat, kehadiran warung-warung ini memperlihatkan bahwa masyarakat kota tidak sepenuhnya tergantung pada sektor formal, melainkan juga memanfaatkan sektor informal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Misalnya ada kelas sosial atas yang makan di restoran dalam mal, ada kelas sosial menengah yang makan di warung kaki lima. Dua-duanya ada di satu ekosistem,” kata dia.
Interaksi sosial di balik tembok betonBerdiri di area belakang yang tersembunyi, Warung Bolong menyajikan pemandangan kontras antara kemewahan dan kesederhanaan.
Lorong beton sempit, dinding semen tinggi, dan puing yang berserakan menjadi saksi interaksi ekonomi kerakyatan yang unik.
Lubang-lubang kecil di tembok, seukuran jendela mini, menjadi loket layanan tanpa turun bagi para pekerja. Dari celah itu, para penjual menyerahkan pesanan kepada pembeli, yang membayar dengan uang tunai melalui celah yang sama.
Tidak ada kasir otomatis, tidak ada struk belanja, semua berjalan berdasarkan kepercayaan dan komunikasi singkat.




