Kontribusi Borobudur Marathon bagi Ekonomi Rakyat

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Selama lebih dari tiga dekade, event olahraga Borobudur Marathon telah tumbuh dan beradaptasi secara konsisten menghadirkan semangat sportivitas, kolaboratif, serta berkontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Di lintasan yang mengelilingi salah satu warisan dunia itu, ajang lari tahunan ini menjelma menjadi ruang pertemuan antara olahraga, budaya, serta geliat ekonomi lokal.

Perjalanan Borobudur Marathon mulai digelar pada tahun 1990. Saat itu, Bob Hasan yang menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) menginisiasi lomba lari dengan jarak 10 kilometer bertajuk ”Borobudur 10K”. Sejak awal pelaksanaannya, pamor ajang lari tersebut cukup mentereng lantaran diikuti oleh sejumlah pelari papan atas kelas dunia, mulai dari Arturo Barrios asal Meksiko, John Ngugi dari Kenya, Kathrin Ullrich dari Jerman Timur, serta Jill Hunter yang berasal Inggris (Kompas, 23/5/2025).

Tak sekadar mendatangkan para atlet top dunia, animo masyarakat pun terbilang sangat tinggi untuk perhelatan lari perdana di kawasan perdesaan di negara berkembang, seperti Indonesia. Merujuk catatan Kompas, sekitar 10.000 peserta memeriahkan ajang lari di Kabupaten Magelang tersebut. Tentu saja, Candi Borobudur yang masuk jajaran tujuh keajaiban dunia menjadi pemikat utama ajang kegiatan olahraga itu. Arsip Kompas merekam euforia tersebut hingga berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Seiring waktu berlalu, gelaran Borobudur 10K bertransformasi menjadi Borobudur Interhash atau ajang lari santai lintas alam pada tahun 2012. Mulai saat itu, segala penyelenggaraannya dikelola oleh Yayasan Borobudur Marathon dengan Liem Chie An sebagai tokoh ketuanya.

Baca JugaWisata Olahraga, Wajah Baru Pariwisata Indonesia

Dalam buku Borobudur Marathon Mewarnai Zaman yang terbit pada tahun 2021 disebutkan, sejak saat itu ajang lari tersebut dimaksudkan untuk memajukan sektor pariwisata. Tak hanya itu, memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar juga menjadi salah satu tujuannya. Tidak sebanyak tahun sebelumnya, jumlah peserta kala itu dibatasi menjadi 5.000 orang yang datang dari 49 negara.

Namun, animo masyarakat justru tak terbendung. Jumlah peminat melonjak di masa-masa berikutnya hingga mencapai 20.000 orang di tahun 2015. Lonjakan ini seiring dengan dibukanya kategori baru, yakni setengah maraton atau half marathon yang berjarak 21,1 kilometer. Berlanjut hingga tahun selanjutnya ketika kategori full marathon untuk pertama kali diadakan. Meski demikian, kurangnya kesiapan di tengah lonjakan peserta membuat penyelenggaraan kurang berjalan secara optimal.

Kolaborasi lintas pihak

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kapasitas maksimal kawasan Candi Borobudur untuk ajang lari hanya sekitar 10.000 orang. Karena itu, sejak tahun 2017, jumlah peserta dibatasi di kisaran jumlah tersebut. Tak lagi dikelola tunggal oleh Yayasan Borobudur Maraton, tetapi juga memperluas kolaborasi dengan menggandeng sejumlah pihak. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun menjadi bagian dari penyelenggara karena sebagai pemilik wilayah administratif. Selain itu, bersama dengan Bank Jateng sebagai sponsor utama pendanaan dan Kompas sebagai mitra media.

Masyarakat setempat juga turut dilibatkan dalam perhelatan akbar setahun sekali di kawasan Candi Borobudur itu. Secara khusus, masyarakat sekitar setidaknya berperan untuk memberikan semangat kepada para pelari (cheering). Nyanyian, tarian, hingga teriakan meramaikan sepanjang rute lari yang sudah disiapkan beberapa saat sebelumnya. Bahkan, beragam kostum pun dikreasikan untuk memeriahkan suasana saat ajang lari digelar.

Baca JugaBank Jateng Borobudur Marathon, Surga Terakhir Pelari Rekreasional

Persiapan matang yang diorganisasi secara baik tersebut membuat penyelenggaraan berjalan lancar sehingga menambah kenyamanan dan kegembiraan para peserta. Antusiasme untuk turut menikmati suasana baru Borobudur Marathon pun tak terbendung. Tahun berikutnya jumlah pendaftar membeludak hingga 25.000 orang. Namun, demi kenyamanan dan keamanan, panitia konsisten menjaga jumlah peserta sesuai kapasitas. Lonjakan animo peserta ini begitu sangat terasa saat penyelenggaraan Borobudur Marathon tahun 2018 dan 2019.

Meski demikian, demi menjawab dahaga para pendaftar, Borobudur Marathon membuka friendship run dengan jarak tempuh 3,1 kilometer bagi sekitar 400 peserta. Kesempatan dibuka untuk warga setempat, keluarga peserta, maupun pelari yang tidak mendapatkan undian kategori utama.

Adaptasi

Namun, kemeriahan itu terpaksa dihentikan untuk sementara karena di tahun berikutnya pandemi Covid-19 secara tiba-tiba melanda dunia tahun 2020. Tak kehilangan cara, Borobudur Marathon tetap dilaksanakan secara terbatas. Tak lagi melintasi perdesaan di sekitar candi, rute lari saat itu hanya di sekitar Taman Lumbini Candi Borobudur dengan 26 pelari elite.

Adapun sekitar 9.090 peserta lainnya bergabung secara daring dari daerahnya masing-masing. Borobudur Marathon Virtual Chalenge itu dipilih demi mencegah penularan Covid-19 tanpa mengurangi antusiasme peserta. Apalagi, di tengah pandemi kesehatan itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebugaran meningkat drastis.

Lantaran kondisi masih belum sepenuhnya pulih, mekanisme yang sama berlanjut hingga tahun 2022. Namun, jumlah pelari di kawasan candi ditambah dengan membuka kesempatan untuk 128 orang pemenang undian, di luar para pelari elite.

Tahun berikutnya, pandemi mulai tertangani, jutaan masyarakat telah mendapatkan vaksin dan situasi perlahan membaik. Kapasitas peserta yang kembali diperbolehkan menapaki rute di kawasan candi pun ditambah meski tak sebanyak kapasitas maksimal. Hanya sekitar 5.000 peserta diizinkan karena pemerintah masih memberlakukan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat.

Baca JugaBelajar dari Borobudur Marathon 2025

Alih-alih memboyong semua peserta ke Magelang, panitia menggelar Borobudur Marathon friendship run di sejumlah kota besar. Jakarta, Medan, Semarang, dan Makassar menjadi empat kota yang dipilih. Setiap kota dengan kapasitas 1.000 peserta. Tak hanya itu, Borobudur Marathon pun mulai melakukan regenerasi dengan membuka kategori Young Talent untuk 40 peserta terpilih.

Tahun 2023, Pemerintah Indonesia menerbitkan Keppres No 17 yang menetapkan berakhirnya status pandemi. Penyelenggaraan Borobudur Marathon pun kembali normal. Jumlah peserta kembali ke kapasitas normal. Jumlah kota untuk perhelatan friendship run bertambah menjadi 10 kota. Selain empat kota di tahun sebelumnya, panitia menambahkan Kota Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Palembang, dan Banjarmasin dengan jumlah peserta yang sama.

Adaptasi dan inovasi tiada henti itu menghantarkan Borobudur Marathon pada babak baru. Tahun 2024, untuk pertama kali Borobudur Marathon mendapat status Label dari Federasi Atletik Internasional (World Athletics). Label merupakan status level paling awal dalam lomba lari di jalan raya yang mendapat persetujuan dari World Athletics. Dengan demikian, Borobudur Marathon resmi masuk kalender lomba lari jalan raya dunia berstandar World Athletics. Di atas status Label terdapat Elite Label pada urutan kedua, Gold Label posisi ketiga, dan Platinum Label sebagai status paling bergengsi (Kompas, 1/12/2024).

Tahun lalu, Borobudur Marathon naik kelas menjadi Elite Label. Bersamaan dengan itu, Borobudur Marathon 2025 juga dilengkapi dengan penghitungan emisi karbon sebagai salah satu syaratnya. Kalkulasi emisi karbon ini merupakan ketentuan World Athletics sebagai bahan penilaian. Tujuan utamanya adalah menjunjung tinggi semangat keberlanjutan lingkungan.

Baca JugaBank Jateng Borobudur Marathon, antara Keseimbangan Prestasi dan Rekreasi
Kontribusi nyata

Perjalanan panjang Borobudur Marathon itu turut memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Perhelatan akbar yang juga acap kali disebut-sebut sebagai ”Lebarannya para pelari” itu juga terbukti mampu memberikan dampak nyata bagi sekitarnya.

Sebagaimana terekam dalam survei dan penghitungan dampak ekonomi yang dilakukan oleh Litbang Kompas sejak tahun 2017. Saat itu, sedikitnya memicu perputaran uang sekitar Rp 15,1 miliar dari aktivitas belanja peserta lari, mulai dari transportasi menuju Magelang, penginapan, hingga anggaran berwisata di sekitar Magelang. Rata-rata total pengeluaran setiap peserta sebesar Rp 1,7 juta.

Seiring dengan jumlah peserta yang terus bertambah, dampak ekonomi yang dihasilkan pun semakin besar. Pada tahun 2018 dan 2019, perputaran ekonomi dari pengeluaran belanja peserta meningkat dan diperkirakan masing-masing senilai Rp 26,50 miliar dan Rp 30,50 miliar. Belanja setiap peserta pun bertambah di kisaran Rp 2,6 juta di tahun 2018 dan Rp 2,8 juta di tahun 2019.

Perputaran uang dari belanja peserta itu pun turut dirasakan masyarakat sekitar. Terutama pemilik penginapan dari berbagai kelas, mulai dari yang berbintang maupun kelas melati. Sebab, berbagai rangkaian dari pengambilan racepack hingga pelaksanaan maraton membuat sebagian besar peserta untuk tinggal (menginap) di sekitar area perlombaan setidaknya satu malam. Karena itu, usaha makan minum di sekitarnya pun turut mencecap ”manisnya gula-gula” dari perhelatan lari kelas internasional itu. Tak terkecuali para perajin dan penjual kerajinan tangan juga turut kebagian karena sebagian pelari juga berwisata bersama teman ataupun keluarganya di sekitar Magelang setelah perlombaan.

Baca JugaBank Jateng Borobudur Marathon 2025 Bertabur Kejutan, dari Elite Label sampai Rute Baru

Sejak awal, ajang tersebut memang dimaksudkan untuk semakin menghidupkan wisata Candi Borobudur, tanpa melupakan warga di sekitarnya. Komitmen itu kian kuat ketika tahun 2018 Borobudur Marathon secara nyata menggandeng sejumlah UMKM untuk turut terlibat secara langsung saat ajang lari diadakan.

Berbagai pembinaan hingga bantuan permodalan diberikan hingga berkesempatan membuka stand saat event berlangsung. Berada di bawah naungan ”Pawone”, para UMKM binaan itu pun naik kelas. Perputaran uangnya mencapai miliaran rupiah, tetapi sempat meredup dan terhenti ketika pandemi melanda karena  ajang lari dilaksanakan secara terbatas.

Namun, seiring kembali normalnya pelaksanaan Borobudur Marathon seusai pandemi, roda ekonomi sekitar kawasan pun kembali bergerak. Kehadiran ribuan pelari beserta pendamping dan pengunjung lainnya kembali menghidupkan sektor akomodasi, kuliner, hingga transportasi. Tak terkecuali para pekerja musiman yang turut berperan mempersiapkan lokasi acara dengan berbagai perlengkapannya.

Hal itu menandai pulihnya denyut sport tourism yang sempat tiarap akibat Covid-19. Hasil survei Litbang Kompas merekam, sedikitnya sekitar Rp 61,64 miliar uang berputar dari perhelatan tersebut, dengan mempertimbangkan adanya dampak berganda (multiplier effect) di berbagai sektor. Nominalnya kian bertambah dari tahun ke tahun, hingga mencapai Rp 84,63 miliar pada penyelenggaraan Borobudur Marathon 2025.

Baca JugaApa Saja Keseruan Borobudur Marathon Tahun Ini?

Meskipun sudah berusia hampir empat dekade, Borobudur Marathon tak tergilas oleh zaman. Bahkan, semakin matang dalam berbagai tahap penyelenggaraannya. Terbukti, dua per tiga responden pelari menyatakan bahwa Borobudur Marathon adalah ajang lari terbaik sepanjang 2025 yang pernah mereka ikuti. Acara yang meriah, warga sekitar yang ramah, rute yang memanjakan mata, hingga status kelas internasional menjadi alasannya.

Perjalanan panjang dengan berbagai tantangan yang turut mewarnai dari waktu ke waktu justru semakin membuktikan kemampuan Borobudur Marathon beradaptasi dalam segala kondisi. Semuanya tak lepas dari semangat kolaborasi yang senantiasa menyertai tanpa melupakan komitmen untuk berkontribusi nyata bagi segenap pihak yang terlibat, termasuk lingkungan sekitarnya. Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan dan terbatasnya lapangan pekerjaan, kehadiran ajang lari seperti Borobudur Marathon memberi secercah harapan yang menghidupan perekonomian baik di sekitar Magelang, Jawa Tengah, dan juga Yogyakarta. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Bela Istri Usai Dijambret Tempuh Restorative Justice, Kejari Sleman Lepas Gelang Pelacak Hogi
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Mutia Ayu Buka Suara Soal Tuduhan Hamburkan Warisan Glenn Fredly
• 9 jam lalueranasional.com
thumb
Waspada Child Grooming, Ancaman Nyata bagi Anak dan Remaja
• 13 jam laluidntimes.com
thumb
Ahok Ungkap Lapangan Golf Jadi Lokasi Favorit Negosiasi Minyak: Murah, Sehat, dan Efektif
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Komisi I DPR RI Dorong Pengendalian AI agar Aman dan Tidak Picu Disinformasi
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.