Perusahaan pertambangan asal China, Zijin, menjadi salah satu produsen emas dan tembaga terbesar di dunia setelah anak perusahaannya, Zijin Mining Group Co, setuju mengakuisisi Allied Gold Corp, yang memiliki tambang emas di Afrika, seharga CAD 5,5 miliar (USD 4 miliar) atau setara Rp 67 triliun.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (27/1), Allied memiliki aset emas yang berproduksi di Mali dan Pantai Gading, dan sedang mengembangkan proyek di Ethiopia. Kesepakatan ini termasuk di antara akuisisi terbesar perusahaan pertambangan yang terdaftar di Kanada oleh investor China.
Penawaran tunai dari Zijin Gold International yang terdaftar di Hong Kong mewakili premi Allied sekitar 27 persen di atas harga rata-rata 30 hari pada penutupan pasar 23 Januari. Transaksi tersebut diumumkan ketika harga emas batangan menembus rekor perdana USD 5.000 per ons, karena gejolak global memicu permintaan aset safe-haven. Saham Allied naik hingga 4,4 persen ke rekor tertinggi CAD 43,59 pada pukul 11:01 pagi di Toronto.
Akuisisi ini akan menambah tiga tambang yang beroperasi ke portofolio Zijin yang diperkirakan akan menghasilkan hingga 400.000 ons emas tahun lalu. Tambang Sadiola di Mali menyumbang sekitar setengah dari total tersebut. Zijin sudah memiliki beberapa proyek di Afrika, termasuk aset tembaga dan litium utama di Republik Demokratik Kongo dan tambang emas di Ghana.
"Kurmuk, yang akan menjadi tambang emas skala industri pertama di Ethiopia dan Sadiola merupakan aset jangka panjang yang kami harapkan dapat memberikan produksi selama beberapa dekade,” kata Ketua Zijin Gold, Hongfu Lin, dalam pernyataan tersebut.
Perusahaan pertambangan terbesar di China tersebut mengatakan pada bulan ini bahwa mereka berencana untuk meningkatkan akuisisi secara global, khususnya mengincar peluang di sektor emas dan tembaga. Perusahaan ini menargetkan pertumbuhan dua digit tahun ini untuk produksi kedua logam tersebut, yang telah mencatatkan serangkaian rekor tertinggi sepanjang masa dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, Kanada telah memperketat aturan seputar kesepakatan asing di bidang pertambangan, termasuk membatasi entitas milik negara untuk membeli saham atau melakukan pengambilalihan aset mineral penting berdasarkan Undang-Undang Investasi Kanada.
Kanada memblokir rencana Shandong Gold Mining Co. dari China untuk mengakuisisi TMAC Resources Inc. pada tahun 2020, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional atas kesepakatan operasi tambang emas di wilayah utara negara itu.
Namun, kesepakatan lain yang melibatkan perusahaan emas China dengan aset di luar Kanada telah disetujui, termasuk pengambilalihan Osino Resources Corp. oleh Shanjin International Gold Co. pada tahun 2024.
Moelis & Company LLC bertindak sebagai penasihat keuangan atau konsultasi untuk Allied, sementara Bank of Nova Scotia memberikan konsultasi kepada komite khusus perusahaan. Royal Bank of Canada memberikan konsultasi kepada Zijin.
Kesepakatan ini bergantung pada persetujuan dari para pemegang saham Allied dan Kanada, serta persetujuan persaingan dan peraturan di berbagai yurisdiksi termasuk China.




