Jakarta, tvOnenews.com – Saham BUMI milik PT Bumi Resources Tbk kembali menjadi sorotan pasar setelah mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (26/1/2026). Harga saham BUMI ambruk 7,78 persen dan ditutup di level Rp332 per saham, memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan jual terhadap saham BUMI terlihat masif sepanjang sesi perdagangan. Data Stockbit Sekuritas mencatat sebanyak 8,31 miliar saham BUMI berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 251.518 kali dan nilai transaksi tembus Rp2,9 triliun. Angka ini menunjukkan minat jual yang sangat besar dari pelaku pasar, baik ritel maupun institusi.Yang menarik perhatian, saham BUMI mencetak net sell atau jual bersih sebesar Rp497,9 miliar hanya dalam satu hari perdagangan. Tekanan tersebut membuat pelaku pasar bertanya-tanya: inikah dalang ambruknya saham BUMI?
Aksi Jual Asing Jadi SorotanBerdasarkan data perdagangan, investor asing menjadi pihak yang paling agresif melepas saham BUMI. Pada jeda siang perdagangan, saham ini sudah mencatatkan net sell asing terbesar dari sisi volume.
Total jual bersih asing terhadap saham BUMI mencapai 993.151.300 saham dalam satu hari. Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa tekanan harga bukan hanya berasal dari investor ritel domestik, melainkan juga dari investor global yang melakukan aksi keluar besar-besaran.
Tekanan dari asing ini juga tercermin dalam kinerja mingguan. Selama periode 19–23 Januari 2026, saham BUMI tercatat sebagai salah satu saham yang paling banyak dilepas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai net sell asing pada saham BUMI sepanjang sepekan mencapai sekitar Rp1,3 triliun di pasar reguler.
Situasi ini memperkuat dugaan bahwa aksi distribusi besar-besaran investor asing menjadi faktor utama di balik ambruknya saham BUMI dalam beberapa hari terakhir.
Sentimen Pasar Masih LemahTekanan jual pada saham BUMI juga terjadi di tengah sentimen pasar yang belum sepenuhnya pulih. Saham-saham sektor batu bara belakangan menghadapi fluktuasi harga komoditas serta ketidakpastian global yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada saham berisiko tinggi.




