PANGKEP, FAJAR- Sejumlah masalah mendera MBG di Pangkep. Mulai makanan berulat, hingga bahan berbahaya dalam makanan.
Sebelumnya, program makan bergizi gratis (MBG) di Pangkep viral lantaran buah apel telah membusuk. Pada kasus lain, ada pula menu sayur yang ditemukan ulat saat siswa akan menyantapnya.
Rentenan kasus ini dianggap terus berulang dan tak benar-benar mendapat perhatian. Dinas Kesehatan (Diskes) pun seringkali hanya turun sebagai “pemadam kebakaran”, tanpa sanksi apa-apa.
Untuk kasus terbaru berupa penemuan peluru hekter atau stapler, Diskes Pangkep langsung turun menginvestigasi. Mereka masih menelusuri secara mendalam dugaan adanya peluru hekter yang bercampur di dalam menu MBG tersebut.
“Saat ini saya juga di Kantor BGN (Badan Gizi Nasional) untuk koordinasi lebih lanjut terkait peran Satgas kami dalam pengawasan,” jelas dr. Muhammad Ishak, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pangkep, Senin, 26 Januari 2026.
Dia menduga peluru hekter tersebut berasal dari olahan tahu. “Tim sudah turun dan pengakuan pihak dapur tidak ada hekter di dapur, kemungkinan memang dari supplier tahunya,” paparnya.
Hanya saja, kesimpulan belum diambil. Pemeriksaan masih berlanjut untuk memastikan muasal benda tajam yang bisa mengancam keselamatan siswa itu ada di dalam menu MBG. Meski dugaannya ikut dalam tahu goreng, pemeriksaan lanjutan dibutuhkan, utamanya terkait standar pengecek sajian sebelum dibagikan kepada siswa.
“Kami masih penelusuran lagi dan mendengarkan sejumlah pihak untuk tetap menjaga program ini berjalan dengan baik,” jelas Ishak
RDP Dewan
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tumampua di Kecamatan Pangkajene memang mendapat sorotan keras dari DPRD, sebab insiden menu yang bermasalah kembali terulang.
Ketua Komisi II DPRD Pangkep, Lutfi Hanafi menyebut pihaknya akan menjadwalkan pemanggilan pada awal Februari 2026. “Segera kita panggil ke DPRD pihak terkait, untuk RDP, apalagi di SPPG itu juga sebelumnya sudah ada insiden,” jelasnya.
Tidak hanya pihak SPPG, pihaknya juga akan memanggil Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah termasuk Kabupaten Pangkep di dalamnya. “Dari BGN wilayah pun akan kita undang untuk hadir,” tuturnya.
Sebelumnya, menu MBG terindikasi tak memenuhi syarat higiene menyusul temuan buah yang masih ditempeli label produk. Hal itu terungkap saat apel didistribusikan kepada siswa.
Temuan itu dinilai berpotensi tidak memenuhi standar kebersihan pangan. Padahal, buah yang aman dan siap dikonsumsi seharusnya sudah melalui proses pencucian bersih secara menyeluruh. Termasuk label yang masih menempel pada kulit buah telah dilepas.
Ahli Gizi Dinas Kesehatan Pangkep, Sigit, menjelaskan meskipun label pada buah umumnya berbahan food grade, pelepasan label tetap sangat dianjurkan sebelum proses pencucian dilakukan.
“Sangat disarankan untuk melepas labelnya terlebih dahulu sebelum dicuci. Jika label tetap menempel saat dicuci, bagian kulit tepat di bawah stiker tersebut tidak akan terkena air,” jelasnya.
Kondisi tersebut berpotensi menyisakan kotoran, bakteri, maupun residu pestisida yang dapat terselip di sekitar pinggiran label. (fit/zuk)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)



