Jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Punaga Jolok dan Kampung Baru, Desa Mandala Kasih, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat membuat siswa bisa menghemat banyak waktu. Jika dulu mereka ingin ke rumah teman harus memutar sejauh satu jam, dengan adanya jembatan gantung itu waktu tempuh antarkampung menjadi terpangkas signifikan.
“Aku kalau muter atau nyeberang selalu lama sampai ke rumah teman. Kalau ke sini (melewati jembatan gantung) cuma lima menit,” kata Sinta, siswa kelas 6 SDN 4 Mandala Kasih, dikutip Selasa (27/1).
Sinta berharap ke depan jembatan ini bisa awet. Agar bisa dipakai untuk keperluan sehat-hari.
Aisya Albi Kamila, siswa kelas 6 SDN 4 Mandala Kasih, juga senang dengan keberadaan jembatan sepanjang 80 meter dan lebar 1,2 meter itu.
“Kalau main itu harus muter ke jalan raya, sekarang setelah ada jembatan ini jadi bisa nyeberang,” katanya.
Soni Irmawan, warga Punaga Jolok, membenarkan jika waktu tempuh bisa sangat terpangkas dengan keberadaan jembatan gantung ini. Kegiatan seperti berdagang, bertani, hingga nelayan pun dipermudah dengan keberadaan jembatan ini.
“Sangat krusial. Jembatan gantung ini sangat bermanfaat untuk mengangkut beras hingga pakan ternak,” kata Soni.
Dia juga senang karena material jembatan ini lebih kokoh. Sebelumnya, jembatan serupa pernah dibangun di sana, tapi dengan material yang ringkih.
"Kalau dulu slingnya dua, sekarang enm. Dan slingnya tambah besar. Mudah-mudahan bisa awet,” kata Soni.
Soni berterima kasih kepada pemerintah yang sudah membuat jembatan gantung itu.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak telah membangun jembatan gantung ini,” kata dia.
15 Jembatan Perintis di Aceh DibangunSebanyak 15 jembatan perintis dibangun oleh TNI pascabencana di Aceh. Langkah ini dilakukan untuk membuka kembali akses desa-desa yang terisolasi akibat rusaknya infrastruktur setelah bencana banjir bandang pada akhir November 2025 lalu.
Kehadiran jembatan-jembatan perintis tersebut memungkinkan warga kembali beraktivitas. Anak-anak bisa sekolah, hasil pertanian dapat dibawa ke pasar, serta bantuan logistik dapat menjangkau desa-desa terdampak. Roda perekonomian pun bangkit.
Hingga saat ini, sebanyak 3 jembatan perintis telah selesai dibangun. Sementara proses pembangunan masih berlangsung di 12 titik.
Misalnya di Desa Baro Yaman, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Para prajurit TNI bekerja tanpa henti membangun jembatan. Pemasangan fondasi dilakukan dengan seksama agar jembatan kuat dan layak digunakan masyarakat.
Begitu juga di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Para personel TNI memasang lantai jembatan dan pagar pengaman dengan teliti.
Di Desa Sekerak Kiri Ke Sekerak Kanan, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, tampak para prajurit TNI mengelas besi untuk penyangga papan lantai jembatan.
Lalu di Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, para prajurit TNI ramai-ramai menarik kabel baja untuk jembatan.
Pembangunan jembatan juga berlangsung di Desa Blang Teurakan, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Lalu di Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.
Lokasi-lokasi pembangunan jembatan lainnya, di antaranya adalah Desa Burlah (Berawang Gajah) di Aceh Tengah, Desa Lawe Mamas Indah di Aceh Tenggara, Desa Meunasah Krueng di Bireuen, Desa Kajeung di Aceh Barat.
Selain membangun fisik jembatan, para prajurit TNI juga menjalin kerja sama dengan masyarakat setempat. Di Desa Owak, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, personel TNI bergotong royong dengan warga untuk mengangkut batu-batu berukuran besar.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dasar merupakan salah satu kunci proses pemulihan pascabencana di Sumatra.
"Presiden menekankan pentingnya percepatan pemulihan infrastruktur dan pelayanan dasar di wilayah terdampak bencana, seperti jembatan, jalan, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga pengungsian," kata Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyampaikan arahan Presiden Prabowo.
Infrastruktur dasar menjadi fondasi agar roda ekonomi, pendidikan, dan layanan publik kembali berjalan normal setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatra pada akhir November 2025 lalu.




