FAJAR, LUWU – Aksi balas dendam para sopir truk membuat akses utama di Jalan Trans Sulawesi, wilayah Bosso, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, lumpuh. Blokade jalan yang dilakukan oleh para sopir logistik, Selasa (27/1/2026).
Mereka jengkel, karena memasuki hari kelima tetap tidak bisa melewati jalan trans Sulawesi. Perbatasan masih diblokade massa yang menuntut pembentukan Provinsi Luwu Raya. Tidak ada tanda-tanda warga membuka blokade.
Para sopir truk menggunakan armada mereka sebagai blokade jalan dengan cara memarkirkannya melintang di tengah badan jalan. Kondisi ini membuat kendaraan roda empat dari arah utara maupun selatan sama sekali tidak bisa melintas.
Tak hanya jalur utama, para sopir dikabarkan berencana memperluas aksi mereka dengan menutup akses jalur alternatif yang biasa digunakan warga lokal. Aksi nekat ini merupakan bentuk protes keras atas kerugian yang mereka alami selama ini.
Berdasarkan pantauan di media sosial @makassar_iinfo, para pengemudi memilih untuk menginap di dalam kabin truk. Mereka berada di lokasi blokade sebagai bentuk “tekanan” kepada pihak berwenang.
Lumpuhnya jalur utama ini mulai memicu kekhawatiran terkait distribusi logistik dan stabilitas ekonomi di wilayah Sulawesi Selatan. Jalan Trans Sulawesi merupakan nadi utama pergerakan barang dan jasa antarkabupaten.
Situasi panas ini memancing beragam reaksi dari netizen. Sebagian besar memberikan dukungan moral kepada para sopir, namun banyak pula yang mengkhawatirkan terjadinya bentrokan fisik jika aparat tidak segera bertindak.
“Semangat pak supirrr,” tulis salah satu akun memberikan dukungan.
“Bagaimana ini bapak @polda_sulsel. Jangan sampai masyarakat dengan masyarakat baku bentur lagi,” tulis netizen lain yang merasa khawatir akan potensi konflik horizontal.
Beberapa komentar bahkan bernada sindiran tajam agar para sopir membuang kunci truk mereka di lokasi blokade agar jalan tidak bisa dibuka paksa kecuali truk didorong secara manual.
Hingga saat ini, baik Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan maupun Pemerintah Kabupaten Luwu belum memberikan pernyataan resmi terkait solusi konkret untuk mengakhiri kebuntuan di jalur trans tersebut. (irm)




