EtIndonesia. Seekor lebah dan seekor tawon sedang berbincang-bincang.
Dengan nada kesal, si tawon berkata: “Lucu sekali. Kita berdua punya banyak kesamaan—sama-sama punya sepasang sayap, perut bulat, dan bisa terbang. Tapi mengapa setiap orang menyebut namamu dengan senyum bahagia, sementara saat menyebutku mereka justru berkata aku adalah hama?”
Tawon melanjutkan dengan penuh kekesalan: “Aku bahkan punya mantel kuning yang indah sejak lahir, sementara kamu setiap hari tampak kotor karena sibuk ke sana kemari. Lalu, apa sebenarnya yang kurang dariku dibandingkan dirimu?”
Lebah menjawab dengan tenang : “Tuan Tawon, apa yang kamu katakan memang benar. Namun menurutku, orang-orang menyukaiku karena aku memberi mereka madu. Lalu, apa yang sudah kamu berikan kepada mereka?”
Tawon menjawab dengan marah: “Mengapa aku harus membantu manusia? Seharusnya merekalah yang memujaku!”
Lebah pun berkata lagi : “Bagaimana kamu ingin diperlakukan orang lain, begitulah seharusnya kamu terlebih dahulu memperlakukan mereka.”
Banyak orang sering merasa tidak dihargai, seolah-olah bakat dan kemampuan yang mereka miliki tidak pernah dilihat atau diapresiasi. Mereka merasa punya begitu banyak kelebihan, tetapi selalu diabaikan dan dilupakan.
Padahal, seperti kisah lebah dan tawon tadi, nilai seseorang di dunia ini bukan terletak pada apa yang dia miliki, melainkan pada apa yang dia berikan kepada orang lain. Bukan pada seberapa hebat bakat, keunggulan, dan kemampuan yang dimiliki, tetapi pada bagaimana semua itu digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama.
Jika keberadaan seseorang tidak mampu menjadi berkat bagi orang lain, maka sebaik apa pun kondisi yang ia miliki, semuanya menjadi sia-sia.
Jadikan kehadiranmu sebagai berkat bagi orang lain. Biarkan keberadaanmu membawa keharuman bagi sekitar.
Biarkan hari-hari orang lain menjadi lebih indah karena kehadiranmu—meskipun hanya lewat satu tindakan kecil, satu bantuan sederhana. Sering kali, hal-hal kecil seperti itulah yang justru menghadirkan kejutan dan kehangatan yang tak terduga.
Coba renungkan sejenak: di lingkungan tempatmu berada—di keluarga, sekolah, komunitas, atau kantor—apakah keberadaanmu membuat suasana menjadi lebih baik dan lebih hangat?
Pertanyaan ini layak kita pikirkan bersama, sebagai bahan perenungan dan pengingat diri.
Renungan
Setelah membaca kisah kecil ini, staf redaksi Erabaru ingin bertanya kepada para pembaca dengan senyum: “Apakah kehadiran kami sudah menjadi berkat bagi Anda?”
Jika belum, kami akan berusaha lebih baik lagi. Jika sudah, terima kasih atas perhatian dan dukungan Anda. (jhn/yn)


