Gelombang setinggi tiga meter yang menggulung perairan pantai utara Jawa (Pantura) memaksa para nelayan menepikan perahu mereka.
Sudah hampir 2 pekan, gelombang tinggi menghantam kawasan Pantura. Cuaca ekstrem ini membuat mereka kehilangan sumber penghasilan.
Perahu-perahu nelayan kini lebih banyak disandarkan di Kali Banger dan kawasan Tambak Lorok, di sisi timur dan barat Kota Semarang. Mesin dimatikan, jaring dilipat, menunggu kondisi laut bersahabat.
Untuk menyambung hidup, sebagian nelayan terpaksa beralih profesi sementara, mulai dari menjadi buruh bangunan hingga pengemudi ojek online.
Ketua DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, menyebut sebanyak 973 nelayan di Kota Semarang terdampak langsung gelombang tinggi yang telah berlangsung hampir dua minggu.
“Gelombangnya bisa sampai tiga meter. Kalau tetap melaut, risikonya besar. Tapi kalau tidak melaut, ya tidak ada penghasilan untuk keluarga,” ujar Ari, Selasa (27/1).
Menurutnya, nelayan muda relatif lebih mudah beradaptasi. Mereka mencari pekerjaan di darat demi dapur tetap mengepul. Namun, melaut dalam kondisi cuaca ekstrem justru sering kali hanya membawa kerugian.
“Kalau dipaksakan melaut, yang didapat bukan ikan, tapi sampah. BBM habis, ikan tidak ada,” katanya.
Berbeda dengan nelayan muda, nelayan yang berusia di atas 45 tahun cenderung bertahan di laut, meski dengan risiko besar. Bagi mereka, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan satu-satunya keterampilan yang dimiliki.
“Kami ini sudah tua, mau kerja apa lagi?” ujar Ari menirukan keluhan para nelayan senior.
Kondisi ini tak hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga pada pasokan ikan di pasaran. Berkurangnya aktivitas melaut membuat suplai ikan segar menurun, yang berpotensi mendorong kenaikan harga.
Pemerintah, kata Ari, telah menyalurkan bantuan bagi nelayan terdampak. Namun, jumlahnya dinilai belum sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
“Nelayan yang terdampak hampir 900 orang, tapi bantuannya hanya sekitar 400. Ini rawan menimbulkan kecemburuan. Harapan kami, bantuan bisa diberikan berdasarkan data yang tepat dan merata,” ujarnya.




