Musim Hujan, Warga Jakarta Diminta Waspadai Flu Musiman hingga DBD

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Warga Jakarta diimbau meningkatkan daya tahan tubuh seiring Jakarta bersiap memasuki puncak flu musiman yang umumnya terjadi dalam dua gelombang, yakni Februari–Maret dan Oktober–November. Di sisi lain, risiko penyakit lain seperti demam berdarah dengue juga meningkat seiring masih terjadinya banjir dan cuaca ekstrem.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Jakarta Sri Puji Wahyuni menjelaskan, pola puncak flu tersebut relatif konsisten setiap tahun pada periode tersebut. Musim hujan dan masa pancaroba menjadi pemicu utama karena kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran virus.

”Pola ini relatif konsisten sehingga menjadi dasar penguatan upaya pencegahan pada periode tersebut,” kata Sri di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Sri mengingatkan, musim hujan maupun masa pancaroba menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya kasus flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Menurut Sri, udara lembab saat musim hujan membuat droplet (percikan liur saat batuk/bersin) bertahan lebih lama di udara. Ditambah lagi, saat hujan orang cenderung berkumpul di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas.

”Kombinasi ventilasi minim dan perubahan suhu drastis membuat saluran pernapasan kita lebih sensitif. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, memastikan ventilasi rumah yang baik, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.

Terkait influenza, data Sistem All Record Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang Januari 2026 di Jakarta ditemukan tiga kasus positif Influenza A, terdiri dari satu kasus subtipe H1 dan dua kasus subtipe H3, dari total 43 sampel yang diperiksa.

Sebagai perbandingan, pada dua minggu pertama Januari 2025, dari 11 sampel yang diperiksa, ditemukan empat kasus Influenza A H1 dan satu kasus Influenza B Victoria, sementara enam sampel lainnya dinyatakan negatif. Perbandingan ini menunjukkan bahwa jumlah kasus influenza dapat naik dan turun (fluktuatif) dan terus dipantau secara rutin melalui sistem surveilans.

Sementara itu, influenza A H3N2 Subclade K yang dikenal sebagai superflu hingga 1 Januari 2026 belum terdeteksi di Jakarta. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau waspada tanpa panik, dengan konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Adapun data Dinkes Jakarta mencatat, total kasus ISPA yang ditemukan sepanjang Desember 2025 mencapai 216.312 kasus. Angka tersebut menjadi pengingat pentingnya langkah pencegahan sejak dini, terutama di tengah musim hujan dan cuaca ekstrem yang masih berlangsung.

DBD meningkat

Di sisi lain, tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta menunjukkan peningkatan pada awal 2026. Berdasarkan data mingguan, jumlah kasus naik dari 69 kasus pada minggu ke-53 tahun 2025 menjadi 83 kasus pada minggu pertama 2026. Meski meningkat, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada Januari 2025.

Kepala Dinas Kesehatan Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, hingga 19 Januari 2026 tercatat 143 kasus DBD di Jakarta. Kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama karena musim hujan masih berlangsung dan berpotensi meningkatkan risiko penularan.

”Curah hujan yang tinggi, sampah yang tidak terkelola, serta tanaman hias yang dapat menampung air berpotensi menimbulkan banyak tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti,” ujar Ani.

Untuk menekan penyebaran, Dinas Kesehatan Jakarta bersama puskesmas terus menggencarkan upaya pencegahan, antara lain melalui sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) baik secara langsung maupun melalui media sosial. Selain itu, Dinkes juga berkoordinasi dengan lurah dan camat untuk rutin memantau pelaksanaan PSN di lingkungan warga bersama Jumantik (Juru Pemantau Jentik).

”Upaya pencegahan diperkuat dengan meningkatkan intensitas pemantauan jentik menjadi dua kali seminggu oleh Jumantik,” kata Ani.

Sementara itu, Gubernur Jakarta Pramono Anung memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 1 Februari 2026. Sebelumnya, ia memutuskan untuk melakukan OMC hingga 27 Januari 2026.

”Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, hingga 1 Februari masih ada kemungkinan potensi cuaca yang mengharuskan dilakukan OMC,” kata Pramono di Jakarta, Selasa.

Baca JugaModifikasi Cuaca Efektif, tetapi Bukan Solusi Tunggal Pengendalian Banjir di Jakarta

Pramono menjelaskan, OMC tidak hanya difokuskan di wilayah Jakarta, tetapi juga dilakukan di daerah penyangga. Menurutnya, upaya tersebut penting untuk menekan risiko banjir kiriman yang berpotensi masuk ke Jakarta.

”Kami juga melakukan OMC di wilayah perbatasan. Percuma kalau hanya di Jakarta, karena potensi banjir kiriman cukup besar. Dalam beberapa hari ke depan, curah hujan di Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, dan Bekasi juga diperkirakan masih tinggi,” ujarnya.

Mewaspadai penyakit

Praktisi Kesehatan Masyarakat, Ngabila Salama mengingatkan bahwa sakit saat banjir bukanlah hal sepele. Air banjir bukan air bersih, melainkan membawa berbagai kuman, bakteri, virus, parasit, limbah, hingga kotoran hewan yang dapat menjadi sumber penyakit. Untuk itu, masyarakat diminta tidak menunda penanganan ketika mulai merasakan gejala sakit, sekecil apa pun.

”Jika mengalami demam, pegal, atau menggigil saat banjir, langkah awal yang perlu dilakukan adalah beristirahat cukup, memperbanyak minum air matang atau oralit, serta melakukan kompres hangat,” ujarnya.

Ngabila menegaskan, demam yang berlangsung lebih dari tiga hari harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Pada kondisi diare atau muntah, asupan cairan menjadi kunci utama untuk mencegah dehidrasi.

Oralit dianjurkan diminum sesering mungkin untuk mencegah dehidrasi, terutama pada anak-anak dan lansia. Tanda bahaya seperti tubuh lemas, mata cekung, dan jarang buang air kecil menjadi sinyal agar segera mencari pertolongan medis.

Ngabila juga mengingatkan agar luka kecil di kaki atau tangan tidak dianggap remeh. Luka harus segera dibersihkan dengan air bersih dan sabun, dikeringkan, diberi antiseptik, lalu ditutup rapat. Luka terbuka yang terpapar air banjir dapat menjadi pintu masuk berbagai penyakit serius.

Keluhan batuk, pilek, atau sesak napas juga perlu diwaspadai dengan memakai masker, menjaga tubuh tetap hangat, serta segera memeriksakan diri jika disertai sesak atau demam tinggi.

Baca JugaJakarta Siaga Cuaca Ekstrem untuk Tekan Risiko Banjir Susulan

Selain itu, penyakit kulit dan ISPA rentan muncul akibat kontak dengan air kotor, terutama pada balita dan lansia, sementara risiko demam berdarah berpotensi meningkat setelah banjir surut karena genangan air menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau selalu menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area banjir, tidak mengonsumsi makanan yang terendam air, rajin mencuci tangan dengan sabun, serta memastikan air minum direbus hingga matang. Jika muncul gejala sakit, masyarakat diminta tidak menunda dan segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit terdekat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ajukan Judicial Review, LKBH UI Desak UU Minerba Sesuai Pasal 33 UUD 1945
• 49 menit lalutvonenews.com
thumb
Ferry Maryadi Akui Bangga Jadi Orang Tua Kedua dan Bisa Dampingi Momen Spesial Syifa Hadju
• 49 menit lalugrid.id
thumb
Waspada, Habis Hujan Terbitlah Lubang Menganga di Jalan Jakarta
• 6 jam laluidntimes.com
thumb
KTP2JB Nilai X dan Snack Video Tak Patuhi Aturan untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas
• 39 menit laluviva.co.id
thumb
Dipolisikan Eggi Sudjana dan Damai Hari, Roy Suryo Santai: Kita Kehilangan 2 Tuyul
• 4 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.