Cegah Masuknya Virus Nipah, Pengawasan Bandara Soekarno-Hatta Diperketat

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

TANGERANG, KOMPAS.com — Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk bandara guna mencegah masuknya virus Nipah ke Indonesia, seiring meningkatnya kasus penyakit tersebut di sejumlah negara.

Kepala BBKK Bandara Internasional Soekarno-Hatta Naning Nugrahini memastikan, hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah pada pelaku perjalanan yang masuk melalui bandara tersebut.

"Sampai saat ini di pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta belum ada temuan," ujar Naning dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).

Baca juga: Banjir Jakarta Meluas, Tol Sedyatmo Bandara Soetta Tak Terdampak

Meski demikian, Naning menegaskan potensi risiko penularan virus Nipah di Indonesia tetap ada. Hal ini disebabkan keberadaan hewan penular virus tersebut, seperti kelelawar, yang juga hidup di Indonesia.

“Potensi risiko untuk terjadi di Indonesia ada karena hewan-hewan penular virus Nipah terdapat di Indonesia,” kata dia.

Karena itu, BBKK mengimbau para penumpang untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan guna mencegah penyebaran virus Nipah.

Sebagai langkah pencegahan, BBKK Bandara Soekarno-Hatta menerapkan sejumlah prosedur pengawasan, salah satunya melalui kewajiban pengisian deklarasi kesehatan bagi seluruh pelaku perjalanan yang masuk ke Indonesia.

Selain itu, pemantauan tanda dan gejala penyakit dilakukan menggunakan pemindai suhu tubuh atau thermal scanner yang dipastikan berfungsi dengan baik.

"Pemantauan tanda dan gejala dilakukan dengan menggunakan thermal scanner yang dipastikan berfungsi," kata dia.

Baca juga: Rute Baru Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta dan Cawang-Jababeka Segera Dibuka

Petugas juga melakukan observasi visual terhadap para penumpang, terutama penumpang internasional. Sementara itu, pos kesehatan di Bandara Soekarno-Hatta telah dilengkapi tenaga medis untuk menangani pelaku perjalanan yang terdeteksi memiliki gejala tertentu.

“Petugas yang kontak langsung menggunakan masker dan sarung tangan, serta rutin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer,” jelas Naning.

Naning menambahkan, virus Nipah diketahui memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, berkisar antara 40 hingga 70 persen. Gejala awal infeksi virus ini pun tidak spesifik sehingga kerap sulit dikenali pada tahap awal.

“Gejalanya mirip penyakit umum seperti flu, pilek, dan nyeri otot. Namun pada kondisi berat dapat menimbulkan gangguan saraf seperti kejang,” kata dia.

Hingga saat ini, lanjut Naning, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk menangani virus Nipah. Penanganan medis terhadap pasien dilakukan berdasarkan gejala yang muncul.

“Belum ada vaksin dan obat. Apabila ditemukan penderita, pengobatan diberikan sesuai dengan gejala yang timbul,” ucap dia.

Baca juga: Pramono Tunggu Izin Kemenhub untuk Perpanjang Rute Transjabodetabek ke Bandara dan Jababeka

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

BBKK juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai hewan penular yang tampak sakit serta memastikan kebersihan makanan, khususnya buah-buahan.

“Masyarakat diimbau mencuci bersih dan mengupas buah sebelum dikonsumsi. Apabila menemukan buah yang bekas gigitan kelelawar, sebaiknya tidak dimakan,” kata Naning.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Saksi Kasus Chromebook Mengaku Diperintah Eks Dirjen Transfer Ratusan Juta
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Pemprov Kalteng Perketat Pengawasan Digital Program Makan Bergizi Gratis
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
IDAI: Waspada Kandungan Gula yang Disamarkan pada Makanan Anak
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
2 Bulan Usai Bencana, Korban Banjir Bandang Bireuen Aceh Masih Menanti Tempat Tinggal Layak
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Israel Larangan Jurnalis Asing Masuk Gaza Meski Rafah Dibuka
• 2 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.