VIVA – Kebijakan hilirisasi mineral nasional mulai menunjukkan dampak nyata di luar sektor industri semata. Salah satu efek paling signifikan adalah terbukanya lapangan kerja baru yang bersifat formal dan membutuhkan keterampilan khusus, seiring berkembangnya proyek pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri.
Pengembangan industri hilir, khususnya pada sektor bauksit hingga aluminium, dinilai tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga mengubah struktur penyerapan tenaga kerja. Lapangan kerja yang tercipta tidak lagi didominasi sektor ekstraktif, melainkan bergeser ke industri pengolahan dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih terampil dan berkelanjutan.
Dampak tersebut mendapat apresiasi dari Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno. Ia menilai hilirisasi sumber daya alam mineral merupakan instrumen strategis untuk mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas di Indonesia.
- ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
“Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi,” ujar Eddy Soeparno.
Menurut Eddy, salah satu proyek hilirisasi yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembukaan lapangan kerja adalah pengembangan ekosistem pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi yang dijalankan oleh Grup MIND ID. Proyek ini menjadi contoh bagaimana kebijakan industri dapat beririsan langsung dengan isu ketenagakerjaan.
Berdasarkan dokumen Pra Feasibility Study (PFS) yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek strategis tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp60 triliun. Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada tahap konstruksi maupun saat operasional penuh.
Eddy menilai, skala investasi tersebut berpotensi menciptakan efek berganda yang luas. Penyerapan tenaga kerja tidak hanya terjadi secara langsung di sektor industri pengolahan, tetapi juga mendorong tumbuhnya lapangan kerja di sektor pendukung.
“Investasi seperti ini akan menggerakkan ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai dari sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dorongan terhadap hilirisasi menjadi semakin relevan di tengah tingginya kebutuhan aluminium nasional. Saat ini, kebutuhan aluminium domestik mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54 persen di antaranya masih bergantung pada impor.




