Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator pasar modal sedang berupaya mengendalikan perdagangan saham yang bergerak tak wajar di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau yang biasa disebut dengan saham gorengan. Salah satunya, dengan meningkatkan jumlah free float atau jumlah saham beredar.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan, upaya meningkatkan jumlah free float pada saat perusahaan melakukan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) tertuang dalam salah satu draf peraturan yang sedang dimatangkan.
"Nah rencananya di dalam pengaturan itu akan dilakukan kenaikan dari besaran free float yang berlaku saat ini. Dengan begitu maka diharapkan akan mampu meningkatkan likuiditas dari saham yang tercatat dalam pasar modal," ujarnya di gedung Kementerian Keuangan Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Harapannya, kata Marendra, volume perdagangan suatu saham dapat menjadi jauh lebih besar sehingga risiko untuk melakukan aksi-aksi yang dapat mempengaruhi harga saham dapat dikurangi secara drastis.
Selain penetapan terhadap penentuan free float di pasar modal, lanjutnya, OJK juga akan menetapkan continuous obligation ataupun kewajiban selanjutannya.
"Bagaimana meningkatkan lebih banyak lagi free float itu ke depan dan kemudian pengaturan yang sampai kepada exit policy-nya," pungkasnya.
Mahendra menambahkan, dalam merumuskan kebijakan perhitungan free float juga memperhatikan standar internasional di berbagai negara yang menjadi pegangan bagi bursa-bursa internasional.
"Dan juga kami mencermati bagaimana peninjauan ataupun review yang dilakukan oleh lembaga-lembaga organisasi investasi internasional misalnya yang sedang berlaku sekarang adalah review yang dilakukan oleh MSCI menjadi masukan yang penting bagi kami dalam perumusan ketentuan tadi itu," tutupnya.
(pgr/pgr)


