Mantan Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meragukan keterlibatan Muhammad Riza Chalid dalam kasus dugaan korupsi impor bahan bakar minyak. Sebab, seluruh kegiatan bisnis dalam Pertamina diawasi dan dicatat secara ketat.
Untuk diketahui, Kejaksaan Agung menuding Riza telah mengintervensi kebijakan tata kelola Pertamina. Dengan demikian Riza berhasil menjadikan perusahaan, PT Orbit Terminal Merak, disewa sebagai terminal BBM oleh Pertamina sejak 2014.
"Saya tidak pernah menerima laporan intervensi oleh Riza Chalid dalam kegiatan bisnis Pertamina. Saya juga heran, sekuat apa sih beliau sampai bisa intervensi bisnis Pertamina yang dijaga ketat?" kata Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (27/1).
Ahok menjelaskan semua proses bisnis Pertamina telah diawasi dengan sistem pengawasan digital yang dibangun saat menjabat sebagai Komisari Utama pada 2019-2024. Menurutnya, sistem tersebut dapat mengawasi seluruh kegiatan bisnis secara langsung, mulai dari kepadatan antrian di SPBU hingga proses bongkar-muat BBM di pelabuhan.
Dengan demikian, Ahok meyakini seluruh karyawan Pertamina tidak bisa berbohong maupun mengintervensi proses bisnis di Pertamina. Sebab, sistem tersebut telah mengawasi seluruh level karyawan, mulai dari level direksi hingga karyawan lapangan.
Di samping itu, Ahok menyampaikan dirinya telah menempatkan Anggota Aktif Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan Anggota Polisi dalam Komite Audit. Langkah tersebut dipilih agar setiap temuan di Pertamina dapat langsung ditindaklanjuti oleh BPKP maupun Kepolisian
"Laporan terkait pelanggaran penggunaan TBBM Merak tidak pernah disampaikan oleh BPKP selama saya menjabat," katanya.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung menghitung kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi BBM mencapai Rp 285 triliun. Jumlah ini terdiri dari kerugian keuangan negara Rp 70,67 triliun, kerugian perekonomian negara Rp 171,99 triliun, serta keuntungan ilegal Rp 43,27 triliun.
Namun, Ahok mengatakan dirinya belum mengetahui bagaimana proses penghitungan kerugian negara tersebut. Sebab, Pertamina mencatatkan rekor laba tertinggi selama periodenya atau senilai US$ 4,77 miliar pada 2023.
Ahok juga mengatakan semua BBM di dalam negeri telah melalui proses pencampuran sebelum dinikmati konsumen, termasuk Premium. Ini karena kilang milik PT Pertamina tidak memproduksi BBM jenis Premium atau kualitas RON 88.
"Hingga Januari 2023, kilang milik Pertamina sudah tidak memproduksi Premium. Karena itu, bensin milik Pertamina dicampur dengan komponen lain untuk menurunkan kualitas BBM," katanya.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F27%2F54f567d470d4ef8ea15f8d08729fe5e3-cropped_image.jpg)

