Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas mencetak rekor baru dan menembus level di atas US$5.200 per ons, melanjutkan reli tajam yang didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta beralihnya investor dari obligasi dan mata uang negara berdaulat.
Melansir Bloomberg pada Rabu (28/1/2026), harga emas sempat menguat 0,4% hingga menyentuh level US$5.202,51 per ons sebelum memangkas kenaikannya ke level US$5.190,17 per ons.
Reli harga logam mulia ini melanjutkan lonjakan 3,4% pada sesi sebelumnya—kenaikan harian terbesar sejak April. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak khawatir terhadap pelemahan dolar, yang telah menyeret mata uang cadangan utama dunia itu ke posisi terlemah dalam hampir empat tahun terakhir.
Pelemahan dolar AS, dikombinasikan dengan meningkatnya risiko geopolitik serta arus keluar investor dari mata uang dan obligasi pemerintah AS (Treasuries), memicu lonjakan permintaan investasi pada logam mulia.
Sejak awal tahun, harga emas telah melesat sekitar 20% dan untuk pertama kalinya pekan ini menembus level US$5.000 per ons. Dalam periode yang sama, harga perak melonjak lebih dari 50%.
Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi Jepang menjadi contoh terbaru kekhawatiran pasar terhadap besarnya belanja fiskal. Di sisi lain, spekulasi bahwa AS dapat melakukan intervensi untuk menopang yen turut menekan dolar, sehingga membuat harga logam mulia relatif lebih murah bagi sebagian besar pembeli global.
Indeks dolar AS tercatat turun 1,1% pada Selasa, penurunan harian terbesar sejak April. Trump mengatakan kepada wartawan di Iowa bahwa dolar berkinerja baik dan nilai tukar mata uang memang wajar berfluktuasi.
“Tidak, saya rasa ini bagus,” ujar Trump ketika ditanya apakah dia khawatir terhadap pelemahan dolar AS.
Sejumlah langkah pemerintahan Trump—mulai dari ancaman mencaplok Greenland, intervensi militer di Venezuela, hingga kembali menggoyang independensi bank sentral AS—turut mengguncang pasar dalam beberapa pekan terakhir. Trump juga mengancam akan menaikkan tarif atas produk Korea Selatan serta mengenakan bea masuk 100% terhadap Kanada jika Ottawa menjalin kesepakatan dagang dengan China.
Sementara itu, pelaku pasar obligasi kian meningkatkan spekulasi pergeseran kebijakan moneter yang lebih dovish di Federal Reserve (The Fed), seiring ekspektasi bahwa Chief Investment Officer BlackRock Inc., Rick Rieder, akan menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Rieder dikenal mendorong kebijakan agresif untuk menurunkan biaya pinjaman.
Lingkungan suku bunga rendah cenderung menguntungkan emas dan logam mulia lain yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Suki Cooper, Global Head of Commodities Research di Standard Chartered Plc menuturkan, ekspektasi terhadap The Fed yang lebih dovish dan kurang independen, ditambah meningkatnya risiko geopolitik kemungkinan mendorong alokasi yang lebih cepat ke emas, terutama dari investor ritel.
“Dengan mengesampingkan koreksi jangka pendek, kami masih melihat adanya risiko kenaikan lanjutan," jelasnya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485730/original/044141700_1769528613-Imigrasi_Jakpus.jpeg)
