REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai kebijakan penurunan suku bunga acuan masih memiliki ruang untuk berlanjut pada 2026. Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi inflasi yang tetap rendah serta kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Perry menyampaikan, sejak September 2024 Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan sebanyak enam kali. “Setelah enam kali suku bunga turun sejak September 2024, kami masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga dengan inflasi yang rendah dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025 di Gedung BI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Sepanjang periode tersebut, suku bunga acuan dipangkas masing-masing 25 basis poin sehingga total penurunan mencapai 150 basis poin. BI Rate turun dari level 6,25 persen menjadi 4,75 persen, yang merupakan level terendah sejak 2022.
Penurunan suku bunga dilakukan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut. Perry menyatakan BI akan terus merumuskan bauran kebijakan guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Meski demikian, BI mencatat transmisi penurunan suku bunga ke sektor perbankan belum sepenuhnya optimal. Suku bunga deposito satu bulan turun 56 basis poin dari 4,81 persen pada awal 2025 menjadi 4,25 persen pada Desember 2025.
Penurunan suku bunga dana tersebut diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan sebesar 39 basis poin. Suku bunga kredit turun dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,81 persen pada Desember 2025.
Bank Indonesia menilai upaya penurunan suku bunga dana dan kredit masih perlu diperkuat. Langkah tersebut diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.