Tanpa Insentif, Harga Mobil Listrik di IIMS 2026 Bakal Naik?

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Dyandra Promosindo mengungkapkan potensi dampak disetopnya insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terhadap penjualan di pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS), pada 5-15 Februari 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan, penyelenggara tetap optimistis terhadap kinerja penjualan kendaraan listrik pada ajang IIMS 2026 meskipun tanpa insentif dari pemerintah.

Optimisme tersebut ditopang oleh harga mobil listrik yang dinilai semakin terjangkau, serta dukungan dari merek-merek dengan fundamental kuat, sehingga pelaku industri telah melakukan perhitungan bisnis secara cermat.

“Insentif ini hanya bersifat mendorong, bukan sesuatu yang harus ada selamanya. Pemerintah memang membantu pada fase awal, 2-3 tahun pertama. Saya rasa, industri juga tidak berharap insentif berlangsung seterusnya, karena pada akhirnya akan ada penyesuaian,” ujar Daswar di Jakarta, dikutip Rabu (28/1/2026).

Belum diketahui secara pasti apakah harga mobil listrik akan naik pada pameran IIMS 2026 usai insentif dicabut. Namun, menurutnya saat ini sudah mulai banyak pabrikan yang menghadirkan model mobil listrik dengan harga terjangkau di kisaran Rp200 juta, atau mendekati segmen low cost green car (LCGC).

Sejumlah model mobil listrik terjangkau di antaranya yakni BYD Atto 1 dengan harga mulai Rp199 juta, Geely EX2 mulai Rp 229,9 juta, hingga Jaecoo J5 EV dibanderol mulai Rp249,9 juta.

Baca Juga

  • Bocoran Mobil Baru yang Meluncur di IIMS 2026, Cek Daftarnya!
  • IIMS 2026 Bidik Transaksi Tembus Rp8 Triliun
  • Toyota Boyong 3 Model Baru di IIMS 2026, Ini Bocorannya

“Sekarang kan mobil listrik lebih banyak variannya, ada yang murah sekali hampir sama dengan LCGC di bawah Rp200 juta. Jadi, pilihannya cukup banyak. Kalaupun tidak ada insentif, mereka tetap bisa menjalankan usahanya di Indonesia,” jelasnya.

Dia mengatakan, sejatinya pelaku industri terbantu dengan adanya insentif, yang berdampak langsung pada kenaikan penjualan mobil listrik pada 2025. Namun, tanpa adanya insentif pun, roda penjualan kendaraan harus tetap berjalan.

Adapun, jumlah merek mobil yang berpartisipasi pada IIMS 2026 meningkat menjadi 35 merek dari sebelumnya 32 merek pada 2025. Sementara itu, jumlah merek sepeda motor juga bertambah dari 24 menjadi 26 merek.

Sederet pemain lama kembali berpartisipasi seperti Toyota, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi. Di samping itu, pameran juga diramaikan oleh kehadiran sejumlah pabrikan baru asal China, antara lain Changan, iCar, Lepas, dan Geely. Alhasil, Dyandra Promosindo membidik transaksi Rp8 triliun di IIMS 2026.

Penjualan Mobil Listrik Melesat

Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang 2025 total penjualan wholesales mobil listrik murni mencapai 103.931 unit. Angka itu melonjak 140,64% (year-on-year/YoY) dari capaian sepanjang 2024.

Kendati demikian, pemerintah telah menegaskan bahwa skema impor utuh (completely built-up/CBU) untuk kendaraan listrik murni hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen diwajibkan memenuhi komitmen produksi lokal dengan rasio 1:1 sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). 

Jika pabrikan tak memenuhi komitmen tersebut, maka berpotensi dikenai sanksi berupa pencairan bank garansi. Sejauh ini, ada beberapa pabrikan mobil listrik yang telah menerima insentif impor, di antaranya yakni BYD, Geely, Vinfast hingga PT National Assembler yang menaungi Citroen, Aion, Maxus dan VW. 

Adapun, pabrik mobil listrik asal China, BYD di Subang, Jawa Barat, ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I/2026. Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan seluas 108 hektare dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun, serta nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp11,7 triliun.

Selain itu, Vinfast asal Vietnam juga mulai merakit lokal mobil listrik pada Januari 2026. Pada tahap awal, Vinfast telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas produksi perdana sekitar 50.000 unit per tahun. Fasilitas manufaktur Vinfast yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, dibangun di atas lahan seluas 171 hektare.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Momen Rel Patah di Sudimara Hambat KRL Green Line yang Dijajal Menhub Dudy
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Meresahkan! Pramono Perintahkan Satpol PP Tertibkan Penjual Tramadol Ilegal di Tanah Abang
• 20 jam laludisway.id
thumb
Harga Emas Melonjak, Saham PSAB & MDKA Cs Justru Catat Net Buy Asing saat IHSG Ambrol
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Siap-Siap Cek Saldo, Dividen Tunai Interim CDIA Rp1,34 per Saham Cair Hari ini
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Dari 127 Keluarga Terdampak, Baru 20 Warga Kampung Bilik Setuju Direlokasi ke Rusun
• 21 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.