Penangkapan Jenderal Zhang Youxia Mengguncang Moral di Dalam Komando Militer Pusat

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Penangkapan Ini Menimbulkan Kekhawatiran tentang Potensi Pemberontakan Selama Masa Perang

Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli yang terjadi secara bersamaan, memunculkan berbagai versi mengenai detail penangkapan mereka. Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai versi tersebut, peristiwa ini telah menyingkap kekacauan dan gejolak serius di internal elite kekuasaan. 

Saat ini, keluhan rakyat, ketidakpuasan tentara, dan kekecewaan aparat di Tiongkok sangat mendalam. Sejumlah analis menilai bahwa kasus Zhang Youxia dipandang sebagai langkah kunci yang menandai pergeseran sistem kekuasaan PKT dari kondisi tegang menuju rapuh, sekaligus menunjukkan bahwa struktur kepercayaan di dalam kelompok penguasa PKT telah sepenuhnya runtuh.

EtIndonesia. Pada 24 Januari sore, anggota Politbiro PKT sekaligus Wakil Ketua KMP Zhang Youxia, serta anggota KMP dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli, secara resmi diumumkan “jatuh” dan disebut “diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum serius”, sehingga dikenai pemeriksaan dan penyelidikan resmi.

Malam itu juga, surat kabar militer PKT menerbitkan tajuk rencana yang mengecam Zhang dan Liu dengan bahasa yang sangat keras, menuduh mereka “secara serius mengkhianati kepercayaan dan amanah Partai dan Komisi Militer Pusat”, “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer”, serta “membahayakan fondasi kekuasaan Partai”.

Media Epoch Times mengutip sejumlah sumber yang menyatakan bahwa penilaian politik awal terhadap Zhang dan Liu bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa, melainkan dituduh “memecah Komisi Militer Pusat”, yang secara langsung menyentuh isu sistem tanggung jawab ketua KMP dan kepemilikan kekuasaan komando tertinggi. Dalam konteks politik militer saat ini, tuduhan semacam itu berarti kasus tersebut telah dinaikkan ke tingkat politik tertinggi.

Sumber yang mengetahui situasi menyebutkan bahwa penanganan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah menimbulkan guncangan nyata di dalam militer. Sejumlah perwira menengah dan senior diminta mendadak untuk menghentikan cuti, membatalkan agenda yang telah direncanakan, dan diperintahkan untuk “siaga di tempat”. Pada saat yang sama, sistem komando, propaganda, dan pernyataan politik di tubuh militer diperketat secara serempak, sehingga suasana keseluruhan menjadi sangat tegang.

Sebagai dua tokoh tertinggi di jajaran militer PKT, tumbangnya Zhang Youxia dan Liu Zhenli secara bersamaan mengejutkan opini internasional. Peristiwa ini juga menandai bahwa pertarungan internal di tingkat elite PKT telah sepenuhnya “membuka topeng”, tanpa lagi menyisakan ruang kompromi. Arah masa depan politik Tiongkok pun menjadi sorotan dunia luar.

Komentator politik Xiao Yang dalam artikelnya di Epoch Times pada 26 Januari menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan Xi Jinping, logika pemerintahan Tiongkok telah jelas bergeser dari “otoritarianisme berorientasi pembangunan” menuju “totalitarianisme defensif”. 

Ia menyebut, stabilitas tidak lagi menjadi sarana, melainkan tujuan itu sendiri; keamanan tidak lagi melayani operasi sosial, tetapi ditempatkan di atas segalanya. Kekuasaan politik memasuki kondisi ketegangan ekstrem—takut pada masyarakat di dalam negeri, takut pada dunia luar, takut pada sejarah, takut pada rakyat, bahkan takut pada legitimasi dirinya sendiri. Situasi “segala sesuatu terasa seperti musuh” ini justru merupakan tanda awal keruntuhan sistem.

Penulis menyatakan bahwa pembersihan terhadap elite militer, terlebih yang melibatkan Wakil Ketua KMP yang sedang menjabat seperti Zhang Youxia, melepaskan sinyal yang sangat berbahaya—yakni bahwa perebutan kekuasaan di tingkat tertinggi PKT telah mendekati fase “saling tidak bisa ditoleransi”. 

Ketika sebuah rezim mulai saling mencurigai dan saling membersihkan di dalam kekuatan bersenjata tertingginya, itu menandakan bahwa struktur kepercayaan internal kelompok penguasa telah sepenuhnya hancur.

Penulis menambahkan bahwa di bawah Xi Jinping, PKT kini tidak hanya “mewaspadai masyarakat”, tetapi mulai mewaspadai orang-orangnya sendiri. Ketika inti kekuasaan tidak lagi mampu menoleransi keberadaan kekuatan berbeda di dalam internalnya, sistem tersebut pada hakikatnya telah memasuki tahap keausan internal yang parah dan kemunduran yang tidak dapat dipulihkan. 

Pemerintahan yang selalu waspada dan penuh ketakutan menjadi tak terhindarkan. Inilah yang disebut sebagai “era akhir PKT”—kediktatoran satu orang dengan hilangnya sepenuhnya dukungan rakyat.

Dalam artikel lain, komentator politik Ding Lvkai berpendapat bahwa tumbangnya Zhang Youxia bukan sekadar akhir politik seorang jenderal senior, melainkan menandai perubahan kualitatif dalam logika pengoperasian kekuasaan militer PKT. 

Ding menyebut, hilangnya lapisan “penyangga struktural” yang diwakili oleh Zhang sangat mungkin dipandang sebagai langkah kunci yang mendorong sistem kekuasaan PKT dari kondisi tegang menuju rapuh. Sejarah sering kali tidak mengumumkan akhir sebuah rezim lewat keruntuhan yang dramatis, melainkan melalui keputusan-keputusan teknis yang tampak biasa, namun diam-diam mengubah arah.

Sejak Xi Jinping berkuasa, ekonomi Tiongkok terperosok ke dalam kesulitan, pertikaian elite semakin tajam, dan banyak pejabat PKT memilih sikap “pasrah”. Ketidakpuasan terhadap Xi merambah seluruh lapisan masyarakat. Di kalangan rakyat, suara yang mengecam Xi, menentang Xi, menyerukan kejatuhan Xi, dan menuntut Xi turun dari jabatan terus bermunculan.

Komentator independen Du Zheng dalam artikelnya di media Taiwan Up Media pada 25 Januari menulis bahwa sebelumnya para loyalis militer Xi Jinping—seperti He Weidong dan Miao Hua dari “faksi Fujian”—telah kalah dalam perebutan kekuasaan dengan Zhang Youxia dan akhirnya tersingkir. Kali ini, menurutnya, langkah Xi Jinping pada dasarnya merupakan tindakan balas dendam terhadap Zhang Youxia.

Penulis menyebutkan bahwa setelah tumbangnya He Weidong dan Miao Hua, kini Zhang Youxia dan Liu Zhenli kembali diselidiki, yang berujung pada guncangan serius dalam moral militer. Hal ini tentu berdampak pada Zona Komando Tengah yang bertugas melindungi Beijing.

Dalam tulisan sebelumnya, penulis juga menyinggung bahwa sejumlah perwira lapis bawah di beberapa zona komando merasa marah akibat korupsi di tingkat atas atau karena elite sibuk bertarung secara internal. 

Potensi pemberontakan militer bisa terakumulasi di bawah tekanan tinggi, dan dalam situasi perang dapat meletus menjadi pemberontakan tentara. Jika pasukan yang bertugas melindungi ibu kota, bahkan Zhongnanhai, mengalami pemberontakan, maka hal itu akan langsung mengancam posisi Xi Jinping.

Penulis menegaskan bahwa keluhan rakyat, tentara, dan pejabat di Tiongkok saat ini semakin parah. Setelah Xi Jinping memasuki masa jabatan ketiga, ekonomi jatuh ke dalam krisis serius, kontrol politik semakin diperketat, dan pembersihan internal kian intensif. 

Baik PKT maupun Xi Jinping telah menjadi sasaran penentangan, baik di dalam maupun di luar sistem. Terlebih sejak paruh akhir 2025, marak fenomena warganet “menabrak menara” (menantang sensor), di mana di bawah pengawasan ketat PKT, banyak orang mencari cara untuk melawan dengan berbagai metode tersembunyi dan relatif aman, mengejek sistem politik dan mengejek Xi Jinping.

Penulis menutup dengan menyatakan bahwa dalam situasi seperti ini, meskipun Xi Jinping memiliki bunker nuklir militer PKT di Xishan, Beijing, untuk menghindari serangan mendadak militer AS, kemarahan para prajurit di sekelilingnya justru bisa menjadi ancaman yang lebih sulit diantisipasi. Sepanjang sejarah, baik di Timur maupun Barat, tidak sedikit penguasa lalim yang akhirnya tumbang dengan cara seperti ini. (Hui)

Tang Zheng


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Soroti Kasus Hogi Miya, Komisi III DPR Panggil Kapolres dan Kajari Sleman
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gerindra Kritik Walkot Padang Lamban Atasi Krisis Air Bersih
• 17 jam laludetik.com
thumb
Komisi VIII ke Menag: Masih Ada Guru Madrasah Terima Upah Rp 50 Ribu Sebulan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Agnez Mo Tetap Maksimal Meski Ear Monitor Bermasalah, Pengalaman Tidak Bohong
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
Keterbatasan tak halangi anak-anak di Gayo Lues untuk tetap mengaji
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.