Gandeng ITB, Lembaga Sensor Film Akan Gunakan AI untuk Proses Penyensoran

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

Studi kelayakan penggunaan kecerdasan buatan dalam proses sensor telah selesai dilakukan.

Gandeng ITB, Lembaga Sensor Film Akan Gunakan AI untuk Proses Penyensoran. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Lembaga Sensor Film tengah mengkaji pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk membantu proses penyensoran film dan tayangan digital di Indonesia. 

Langkah ini disiapkan sebagai mitigasi apabila ke depan LSF mendapat mandat untuk mengklasifikasi konten di platform over the top (OTT) maupun media sosial. Ketua LSF RI Naswardi mengatakan kajian ini berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung. 

Baca Juga:
49,5 Juta Warga Indonesia Nonton Film Bajakan, Industri Kreatif Rugi Rp30 Triliun

Studi kelayakan penggunaan kecerdasan buatan dalam proses sensor telah selesai dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa teknologi ini memungkinkan untuk diterapkan ke depannya.

“Kami melakukan kajian dengan menggandeng ITB dalam konteks pembuatan kecerdasan buatan untuk kepentingan penyensoran. Dan studi kelayakannya sudah terbit tahun ini,” ujar Naswardi saat konferensi pers, Rabu (28/1/2026).

Baca Juga:
Sokong Pertumbuhan Ekonomi, LSF Dorong Film Nasional Tembus Pasar Global

Menurut Naswardi, penggunaan AI nantinya tidak akan menggantikan peran tenaga sensor. Teknologi tersebut hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses penilaian konten dan membantu tugas-tugas kelompok penyensoran. 

Sehingga masih ada sumber daya manusia yang tetap melakukan sensor film.

Baca Juga:
LSF Ingin Gratiskan Pengurusan Sensor Film yang Bersifat Edukatif

“Jadi SDM-nya itu tetap dilakukan oleh Lembaga Sensor Film, tetapi dari sisi teknologi, AI ini cukup dan layak untuk kepentingan perbantuan di dalam proses penyensoran,” jelasnya.

Pengenbangan AI untuk sensor juga masih berada di tahap awal. Naswardi menjelaskan, nantinya LSF RI masih akan melanjutkan kajian dan kerja sama lanjutan dengan ITB sebelum implementasi lebih jauh.

Kajian ini juga menjadi bentuk upaya LSF beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan ekosistem distribusi film. Mengingat konsumsi konten digital di platform OTT semakin meningkat.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025 LSF mencatat telah menilai sebanyak 41.104 judul film. Dari jumlah tersebut, 41.092 judul dinyatakan lulus sensor dan memperoleh Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

Meski demikian, LSF juga menyatakan 12 judul film tidak lulus sensor. Seluruhnya merupakan film impor yang ditujukan untuk platform over the top (OTT), festival, maupun event tertentu.

Adapun klasifikasi usia yang diterapkan LSF meliputi kategori Semua Umur (SU), Remaja 13+, Dewasa 17+, dan Dewasa 21+.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Iran Peringatkan Negara Tetangga Tak Bantu AS Menyerang
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Dituding Jule Lakukan KDRT, Na Daehoon Tak Ragu Siap Tempuh Jalur Hukum
• 2 jam lalucumicumi.com
thumb
Purbaya Rombak Pegawai Bea Cukai Hari Ini, Ada yang Dirumahkan!
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Optimisme Ekonomi Indonesia: Investor Diminta Tak Ragu
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Duduk Perkara Guru SD di Tangsel Dipolisikan Ortu Buntut Nasihati Murid
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.