JAKARTA, KOMPAS.com - Kepadatan kapal di Dermaga Kali Asin, Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, berdampak langsung pada penurunan pendapatan nelayan dan pemilik kapal.
James Wiling, salah satu pemilik kapal di Dermaga Kali Asin menyebut kondisi tersebut berdampak terhadap pendapatannya. Ia mengaku omzet usahanya tercatat menurun sekitar 30 persen.
"Saya mengalami, terus terang aja ya, omzet saya menurun. Kurang lebih 30 persen saya menurun. Dalam waktu dua bulan inilah," kata James saat ditemui Kompas.com di lokasi, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Lalu Lintas Kapal Muara Angke Semrawut, Pemprov DKI Dianggap Kurang Perhatian
Sejak kepadatan di dermaga tersebut memuncak pada sekitar November 2025, pemasukannya laba bersihnya mencapai sekitar Rp 700-800 juta.
"Padahal saya salah satu yang namanya taat dengan PNBP lho. Kita itu kalau PNBP turun kita bayar," kata dia.
Menurut dia, tertahannya kapal di dermaga tidak hanya menghambat aktivitas melaut, tetapi juga memengaruhi rantai distribusi ikan.
"Dalam pemasaran ikan ya di khususnya di Jakarta ini ini kita salah satu yang terbesar di DKI ini. Bagaimana kalau kapal kayak gini mau berangkat? Itu bisa pengaruh namanya langkanya ikan ya. Langkanya ikan itu kerugian luar biasa," tutur dia.
Selain kerugian finansial, James menilai kepadatan dermaga juga meningkatkan risiko penurunan kualitas ikan.
Meski seluruh kapal di dermaga tersebut sudah memiliki freezer untuk membekukan Ikan, sistem freezer kompresor membutuhkan air laut dalam untuk mendinginkan mesinnya.
"Kalau kerugian kualitas menurun pasti kerugian di harga nilainya terjual itu udah pasti," jelasnya.
Baca juga: Dermaga Kali Asin Muara Angke Penuh, Proses Bongkar Muat Kapal Jadi Berhari-hari
Ia berharap pihak Pemprov segera memberikan perhatian untuk menata dermaga agar aktivitas nelayan kembali normal.
"Tolonglah turun tata yang baik ya apalagi ini mengandung hajatnya banyak orang gitu loh. Kasihan dampaknya banyak kerugian," tambahnya.
Untuk diketahui, kepadatan kapal di Dermaga Kali Asin, Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, menyebabkan proses bongkar muat berjalan lambat dan menyulitkan aktivitas para nelayan.
Kondisi ini dikeluhkan karena kapal-kapal harus menunggu berhari-hari hanya untuk bersandar di dermaga.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com di lokasi, ratusan kapal terlihat terparkir rapat di dermaga.




