Pelantikan Dewan Energi Nasional dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jadi berita populer kumparanBISNIS sepanjang Rabu (28/1). Untuk lebih jelasnya, berikut rangkumannya:
Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Ketua Harian-Purbaya AnggotaPresiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah resmi melantik anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026-2030 pada Rabu (28/1) di Istana Negara. Pelantikan ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 134/P tahun 2026 dan 6/P, menandai pembentukan tim strategis yang akan merumuskan kebijakan energi nasional untuk beberapa tahun ke depan. Kehadiran DEN diharapkan dapat memberikan arah yang jelas bagi keberlanjutan energi dan ketahanan pasokan di tengah dinamika global.
Struktur keanggotaan DEN periode ini mencerminkan representasi yang luas dari berbagai sektor kunci, mulai dari pemerintahan hingga pemangku kepentingan. Bahlil Lahadalia menjadi Ketua Harian DEN, sementara Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sebagai anggota DEN. Ada pula perwakilan dari industri, akademisi, teknologi, lingkungan hidup, dan konsumen.
Keberagaman ini penting untuk menyusun kebijakan energi yang komprehensif dan berkelanjutan, mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Berlakukan Trading HaltIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 8 persen pada perdagangan Rabu (28/1), terjun bebas 718,441 poin ke level 8.261,78. Penurunan drastis ini secara otomatis memicu diberlakukannya trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), sesuai dengan aturan baru yang menetapkan penghentian perdagangan apabila terjadi koreksi lebih dari 8 persen. Ini menunjukkan volatilitas tinggi di pasar modal dan sentimen negatif investor yang dominan.
Data perdagangan menunjukkan dari total saham yang diperdagangkan, hanya 28 saham yang mencatatkan kenaikan, sementara mayoritas besar yakni 768 saham mengalami penurunan, dan 8 saham stagnan.
Volume perdagangan mencapai Rp 45,39 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 31,9 triliun. Angka-angka ini mengindikasikan tekanan jual yang sangat kuat di pasar, berpotensi mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi makro atau faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi stabilitas pasar.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5487470/original/063786400_1769666211-WhatsApp_Image_2026-01-29_at_12.28.09.jpeg)


