Jakarta, VIVA — Harga emas dunia semakin menggila dan kian sulit dibendung. Logam mulia ini melampaui level US$5.400 per ons imbas meningkatnya ketegangan geopolitik global dan berlanjutnya pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Harga emas global melesat 7,92 persen atau 402,92 poin hingga Kamis pagi pukul 06.56 WIB pada Kamis, 29 Januari 2026. Lonjakan mendorong emas dibanderol senilai US$5.487,88 atau sekitar Rp 91,8 juta (estimasi kurs Rp 16.730 per dolar AS) per ons, demikian data Gold Price.
Sebelumnya, harga emas melonjak lebih dari 2 persen dan kembali mencetak rekor tertinggi baru pada pada perdagangan Rabu waktu Inggris, 28 Januari 2026. Ini melanjutkan reli kuat sebesar 3,4 persen sehari sebelumnya.
Emas telah menguat lebih dari 22 persen sepanjang tahun 2026. Lonjakan agresif ini mencerminkan meningkatnya kecemasan investor terhadap arah kebijakan AS dan tekanan hebat di pasar mata uang alias valuta asing (valas).
Pelemahan dolar menjadi katalis utama reli emas. Mata uang Negeri Paman Sam tercatat melemah 1,5 persen terhadap sekeranjang mata uang utama dunia sepanjang pekan ini.
- Antara
Tekanan terhadap dolar semakin kuat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak terlalu khawatir dengan penurunan tajam nilai tukar dolar. Meski sempat stabil dan menguat tipis 0,2 persen pada sesi perdagangan Rabu, sentimen negatif terhadap dolar masih membayangi pasar.
Kondisi ini membuat emas dunia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah dan menarik bagi investor global. Tak heran, arus dana kembali deras mengalir ke aset safe haven tersebut.
“Untuk saat ini, tidak ada aset tradisional yang aman, likuid, dan dihargai dalam dolar AS selain emas,” ujar Kepala Ekonom Bank Safra Sarasin asal Swiss, Karsten Junius, dikutip dari Financial Times pada Kamis, 29 Januari 2026.
Pandangan senada disampaikan Analis CitiGroup, Ben Wiltshire. Ia mengatakan, emas mengambil alih peran obligasi negara sebagai tujuan utama investor saat risiko meningkat.
“Emas telah mengambil mahkota dari obligasi pemerintah sebagai aset refleks ketika investor mencari perlindungan,” kata Wiltshire
Ia menambahkan, kondisi ini merupakan bagian dari pergeseran struktural. Di mana obligasi tidak lagi reli saat pasar berada dalam kondisi risk-off.




