Persahabatan yang Sibuk: Antara Dewasa dan Sekadar Alasan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kesibukan kerap menjadi alasan paling aman untuk menjelaskan renggangnya hubungan, termasuk persahabatan. Pekerjaan, pendidikan, target hidup, dan ambisi personal sering diposisikan sebagai prioritas utama.

Sahabat pun perlahan tersingkir; bukan karena tak lagi berarti, melainkan karena dianggap bisa menunggu. Kesibukan seolah memberi legitimasi untuk jarang hadir tanpa perlu merasa bersalah.

Hari ini, persahabatan bukan lagi diukur dari seberapa sering bertemu atau berbincang, melainkan dari narasi bahwa “kami saling memahami meski jarang komunikasi.” Kalimat ini terdengar dewasa dan bijak.

Namun, di saat yang sama, ia juga kerap menjadi dalih untuk membiarkan jarak tumbuh tanpa usaha menjaganya. Kita menyebutnya kedewasaan, padahal bisa jadi itu bentuk kelelahan sosial yang dibungkus dengan kata-kata indah.

Memang benar, tidak semua persahabatan harus intens. Kedewasaan menuntut kemampuan saling memberi ruang. Sahabat sejati tidak menuntut kehadiran berlebihan dan memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing.

Namun, ada garis tipis antara memberi ruang dan mengabaikan. Ketika pesan tak lagi dibalas, kabar tak lagi ditanyakan, dan pertemuan selalu ditunda tanpa rencana, persahabatan perlahan berubah menjadi kenangan yang hanya hidup di masa lalu.

Ironisnya, banyak persahabatan hari ini tidak berakhir karena konflik besar, tetapi karena dibiarkan terlalu lama tanpa perhatian.

Tidak ada pertengkaran, tidak ada perpisahan dramatis. Yang ada hanyalah jarak yang tumbuh pelan-pelan hingga suatu hari kita sadar: hubungan itu sudah tidak lagi berjalan. Kita masih menyebutnya sahabat, tetapi tidak lagi benar-benar hadir sebagai sahabat.

Di tengah realitas ini, persahabatan juga semakin bergeser menjadi hubungan yang fungsional. Sahabat hadir ketika ada kepentingan—saat membutuhkan bantuan, relasi, atau dukungan emosional—lalu menghilang ketika urusan selesai.

Pola ini sering tidak disadari, tetapi dampaknya nyata. Persahabatan kehilangan kedalaman emosional dan berubah menjadi relasi transaksional yang dingin. Kita memiliki banyak kontak, tetapi semakin sedikit tempat pulang untuk bercerita.

Kesibukan sering dijadikan pembenaran atas pola ini. Padahal, kesibukan seharusnya mengajarkan empati, bukan pembiaran. Jika seseorang masih bisa meluangkan waktu untuk pekerjaan, hiburan, atau media sosial, ketidakhadiran dalam persahabatan bukan semata soal waktu, melainkan soal pilihan. Tidak semua yang sibuk kehilangan waktu; sebagian hanya mengatur ulang prioritas.

Bukan berarti persahabatan menuntut perhatian berlebihan. Tidak. Justru yang dibutuhkan sering kali sangat sederhana: sebuah pesan singkat, sapaan tulus, atau upaya menyempatkan waktu meski sebentar.

Hal-hal kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi menjadi penanda bahwa hubungan tersebut masih dijaga. Persahabatan—seperti hubungan apa pun—tidak bisa hidup hanya dari kenangan dan niat baik.

Pada akhirnya, sahabat bukanlah mereka yang selalu hadir di setiap momen, melainkan yang tetap memilih bertahan di tengah perubahan hidup. Di dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak cepat, persahabatan seharusnya menjadi ruang jeda—tempat kita tetap merasa manusia, bukan sekadar individu yang sibuk mengejar target.

Menjaga persahabatan di tengah kesibukan bukan soal melawan waktu, melainkan soal keberanian untuk tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan saling melupakan. Sebab, dalam hidup yang kian cepat ini, sahabat adalah jeda paling jujur yang sering kita abaikan, padahal paling kita butuhkan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Daftar 26 Negara Anggota Pendiri Dewan Perdamaian Gaza, Ada Indonesia
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Wakapolda Papua Barat: Manajemen risiko instrumen cegah penyimpangan
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Lutut dan Punggung Nyeri, Maia Estianty Pernah Pakai Kursi untuk Salat
• 7 jam lalugenpi.co
thumb
KPK Ubah Aturan Gratifikasi: Hadiah Nikah Maksimal Rp 1,5 Juta Tak Wajib Lapor
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Baznas Bangun Kembali Meunasah di Tengah Puing Bencana Pidie Jaya
• 18 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.