Dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan pada Kamis (29/1). Hal ini terjadi seiring ketidakpastian kebijakan ekonomi dan langkah geopolitik yang belum sepenuhnya diredam oleh pernyataan dukungan dari Gedung Putih.
Dilansir dari Reuters, Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, berada di 96,24. Ia masih dekat dengan titik terendah empat tahun.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga Dolar AS
Federal Reserve (The Fed) menyampaikan nada yang lebih tenang terkait kondisi pasar tenaga kerja dan risiko inflasi. Sikap tersebut ditafsirkan investor sebagai sinyal bahwa suku bunga kemungkinan akan bertahan lebih lama, meskipun tanpa komitmen waktu yang jelas untuk pelonggaran lebih lanjut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya terkesan meremehkan pelemahan mata uang tersebut. Namun, tekanan mulai mereda ketika pemerintah menegaskan bahwa pihaknya tetap menganut kebijakan dolar kuat.
“Itu komentar yang datang pada waktu yang tepat dan bisa diasumsikan sudah diperhitungkan,” kata Kepala Strategi Valas National Australia Bank (NAB) Ray Attrill.
Meski aksi jual besar-besaran dolar mulai mereda, mata uang itu masih berada dalam posisi defensif. Pelemahan tajam awal pekan ini tercatat sebagai yang paling signifikan sejak gelombang tarif mengguncang pasar pada April 2025.
Attrill menilai kinerja dolar sangat bergantung pada perkembangan isu independensi bank sentral, termasuk putusan pengadilan terkait upaya pemerintah untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook.
Baca Juga: Bursa Saham Wall Street Stagnan, The Fed Tahan Suku Bunga Dolar AS
“Hilangnya independensi adalah risiko terbesar bagi dominasi dolar dalam jangka panjang,” katanya.




