REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan sejak pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026). Dibuka di level 8.027,83, IHSG terus melemah tajam dan pada pukul 09.20 WIB anjlok 7,09 persen atau 590,23 poin ke posisi 7.730,33.
Sejak awal perdagangan, tekanan jual mendominasi pasar saham domestik. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 8.049,10 dan terendah 7.724,42. Hingga pukul 09.20 WIB, nilai transaksi tercatat mencapai Rp 9,27 triliun dengan volume perdagangan 11,02 miliar saham. Sebanyak 641 saham melemah, hanya 39 saham menguat, dan 28 saham stagnan.
- IHSG Makin Anjlok, BEI Kembali Setop Sementara Perdagangan Saham
- Terjun Bebas Pagi Ini IHSG Kena Trading Halt Lagi, Anjlok Lebih dari 7 Persen
- Purbaya Nilai Pelemahan IHSG Hanya Syok Sesaat, Rosan Desak Respons Cepat
Tekanan tajam tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko lanjutan di pasar saham Indonesia. Berdasarkan laporan Riset Kopi Pagi D’Origin Financial & Business Advisory serta Daily & Technical Update PT Ciptadana Sekuritas Asia yang dipublikasikan Kamis (29/1/2026), pelemahan IHSG dipicu respons emosional pasar terhadap langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam laporannya, D’Origin menilai tekanan pasar terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Sentimen negatif pasar dipicu pengumuman MSCI yang menyoroti isu transparansi data free float saham Indonesia, sehingga mendorong aksi jual masif pada saham-saham berkapitalisasi besar,” tulis D’Origin dalam Riset Kopi Pagi, Kamis (29/1/2026).
Risiko lanjutan pun membesar seiring kebijakan sementara MSCI yang membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor dan jumlah saham, menghentikan penambahan saham Indonesia ke MSCI IMI, serta membatasi migrasi antarsegmen ukuran hingga Mei 2026. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI.
Dari sisi teknikal, Ciptadana Sekuritas Asia menilai tekanan jual masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek. Selama IHSG belum mampu kembali ke atas area support kunci, risiko volatilitas tinggi masih membayangi pergerakan pasar.
Dalam laporan tertulis, tekanan pasar tercermin dari dominasi saham yang melemah sejak awal perdagangan, terutama saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih bersikap risk-off di tengah ketidakpastian lanjutan terkait kebijakan indeks global.
Selama sentimen MSCI belum mereda dan kejelasan kebijakan belum diperoleh, volatilitas pasar saham Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4852925/original/033519100_1717507108-Timnas_Indonesia_-_Thom_Haye_dan_Ivar_Jenner_copy.jpg)

