Kemana Aku Pergi Setelah Ini
Karya: A. Syahruni Aryanti
Mencari Arah di Usia Dewasa: Refleksi Sunyi dalam Kemana Aku Pergi Setelah Ini
Di tengah maraknya buku pengembangan diri yang menawarkan jawaban cepat, afirmasi instan, dan janji kebahagiaan yang terukur, Kemana Aku Pergi Setelah Ini hadir sebagai antitesis yang menenangkan.
Buku karya A. Syahruni Aryanti ini tidak mengajak pembaca untuk segera “menjadi lebih baik”, melainkan mengizinkan mereka berhenti sejenak diam, menghela napas, dan jujur pada diri sendiri.
Buku ini tidak lahir dari kegamangan sesaat, tetapi dari proses perenungan panjang tentang fase kehidupan dewasa: sebuah fase yang sering kali tampak mapan di permukaan, namun menyimpan banyak pertanyaan di dalam.
Syahruni menulis tentang masa ketika seseorang tidak sedang jatuh, tetapi juga belum tahu ke mana harus melangkah.
Tentang hidup yang berjalan, namun terasa hampa. Tentang iman yang tidak hilang, tetapi tidak selalu terang.
Tentang kelelahan yang sering disembunyikan di balik kalimat, “aku baik-baik saja.”
Sebagai kumpulan refleksi personal, Kemana Aku Pergi Setelah Ini bergerak perlahan, nyaris tanpa konflik dramatis. Justru di situlah kekuatannya.
Buku ini menangkap pengalaman-pengalaman sunyi yang jarang diucapkan: kebingungan memilih jalan hidup, rasa bersalah karena belum sampai, dan kegelisahan menghadapi ekspektasi sosial yang terus menekan.
Semua disajikan dengan bahasa yang sederhana, jernih, dan penuh empati.
Keunggulan utama buku ini terletak pada kejujuran batinnya. Syahruni tidak menempatkan dirinya sebagai figur yang telah menemukan jawaban, apalagi sebagai pemberi nasihat.
Ia hadir sebagai suara yang berjalan bersama pembaca sejajar, tidak menggurui. Kalimat-kalimatnya terasa seperti dialog pelan dengan diri sendiri, seolah pembaca sedang membuka catatan harian yang secara mengejutkan sangat mirip dengan isi hati mereka sendiri.
Alih-alih menyodorkan solusi, buku ini justru merawat keberanian untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup, tentang arah perjalanan, tentang pilihan yang telah dan akan diambil, dibiarkan terbuka.
Pembaca tidak dipaksa untuk segera menemukan jawaban, tetapi diajak berdamai dengan proses pencarian itu sendiri.
Dalam konteks ini, Kemana Aku Pergi Setelah Ini tidak mengajarkan ketegaran semu, melainkan mengakui bahwa lelah adalah bagian sah dari perjalanan manusia.
Secara tematik, buku ini sangat relevan bagi pembaca dewasa muda hingga dewasa matang terutama mereka yang berada di persimpangan hidup: antara idealisme dan realitas, antara tuntutan sosial dan suara batin, antara keinginan untuk bertahan dan kebutuhan untuk berhenti sejenak.
Buku ini berbicara kepada mereka yang tampak tenang di luar, namun sedang bergulat secara diam-diam di dalam.
Dari sisi pengalaman membaca, buku ini bukan bacaan yang ditujukan untuk ditamatkan dalam sekali duduk.
Ia lebih tepat dibaca perlahan, satu atau dua bagian dalam satu waktu, memberi ruang bagi pembaca untuk merenung dan kembali pada dirinya sendiri.
Seperti teman duduk di senja hari tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa.
Dengan gaya tutur yang reflektif, matang, dan penuh empati, A. Syahruni Aryanti berhasil menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan.
Kemana Aku Pergi Setelah Ini bukan buku tentang menemukan arah, melainkan tentang keberanian berjalan meski arah belum sepenuhnya jelas.
Identitas Buku
Judul: Kemana Aku Pergi Setelah Ini
Penulis: A. Syahruni Aryanti
Genre: Refleksi, Prosa Kontemplatif
Target Pembaca: Dewasa muda – dewasa matang, pembaca reflektif




