Pendidikan selalu bergerak mengikuti perubahan zaman. Cara belajar, cara berpikir, bahkan cara murid memaknai sekolah hari ini sangat berbeda dibandingkan dengan satu atau dua dekade lalu. Perubahan tersebut menuntut semua pihak untuk terus menyesuaikan diri, terutama mereka yang berada di garis depan proses pendidikan.
Di ruang kelas, guru bukan hanya pengajar materi, melainkan juga sebagai figur yang diharapkan mampu membimbing, menanamkan nilai, dan merespons dinamika sosial yang terus berubah.
Dalam konteks inilah guru kerap menjadi sorotan ketika publik merasa kualitas pendidikan tidak kunjung meningkat, sementara moral generasi muda dianggap mengalami kemerosotan. Kritik pun sering datang bertubi-tubi, meski tidak semuanya memahami bahwa pendidikan bukan semata urusan guru.
Pendidikan adalah ekosistem yang kompleks, melibatkan keluarga, masyarakat, teknologi, lingkungan sosial, hingga kebijakan pemerintah. Namun demikian, sebagai aktor utama di ruang kelas, guru tetap memegang peran strategis yang menuntut kesiapan untuk terus menata dan membenahi diri demi menjaga kualitas profesionalisme.
Tantangan terbesar guru hari ini adalah berhadapan dengan murid yang tumbuh dalam budaya digital. Perilaku belajar mereka tidak bisa dilepaskan dari gawai dan arus informasi yang hadir setiap hari. Global Education Monitoring (GEM) Report 2023 yang diterbitkan UNESCO menunjukkan bahwa teknologi memengaruhi cara murid belajar, berpikir, dan berinteraksi.
Murid hidup dalam dunia yang serba cepat, visual, dan penuh distraksi. Persoalan yang mereka hadapi pun menjadi semakin kompleks. Situasi ini menegaskan bahwa guru tidak lagi berhadapan dengan pola belajar tradisional, tetapi dengan generasi yang terbiasa multitasking, responsif, dan cepat berpindah atensi. Agar pembelajaran tetap relevan dan bermakna, strategi mengajar perlu bergerak mengikuti karakter budaya belajar tersebut.
Sayangnya, lahirnya generasi digital tidak selalu diiringi dengan kesiapan digital guru. Murid hadir dengan gaya belajar yang terkoneksi, sementara sebagian guru masih bertumpu pada pola konvensional.
Survei Indeks Literasi Digital Nasional oleh Kemenkominfo dan Katadata Insight Center (2022) menunjukkan skor 3,54 dari skala 5 yang artinya kecakapan digital nasional berada pada kategori menengah.
Temuan ini mengisyaratkan bahwa kecakapan digital—termasuk di kalangan guru—masih perlu ditingkatkan. Guru memang tidak dituntut menjadi sosok yang sepenuhnya digital. Namun, kemampuan dasar memanfaatkan teknologi pembelajaran dan tidak terlalu berjarak dengan dunia murid menjadi prasyarat penting agar proses belajar tidak terasa asing.
Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, berbenah diri tidak harus menunggu kebijakan atau pelatihan formal. Refleksi diri yang dilakukan secara rutin justru menjadi pintu awal. Pola mengajar lama yang tidak lagi relevan perlu ditinjau ulang; bukan untuk disalahkan, melainkan untuk diperbaiki.
Semangat belajar kembali perlu dihidupkan agar guru mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Membaca buku—baik buku digital maupun buku cetak yang relevan—harus menjadi sebuah ritual sehari-hari bagi guru.
Selain itu, membuka diri terhadap pengetahuan baru—baik teknologi, pedagogi, maupun psikologi generasi—menjadi langkah penting untuk dilakukan. Komitmen untuk terus belajar juga memberi teladan bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, melainkan juga proses seumur hidup.
Selain penguatan kompetensi, guru perlu memahami persoalan murid secara lebih utuh. Tantangan akademik kerap berkelindan dengan persoalan sosial dan kesehatan mental. Guru yang hadir dengan empati dan mampu membangun relasi akan lebih mudah diterima murid.
Dalam banyak situasi, guru berperan sebagai pengganti orang tua di sekolah. Relasi yang dibangun melalui empati, keteladanan, dan pemahaman menjadi fondasi penting bagi pembelajaran sekaligus pembentukan karakter. Teknologi, dalam konteks ini, seharusnya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti hubungan manusiawi dalam pendidikan.
Pada akhirnya, berbenah diri juga berarti merawat pribadi guru itu sendiri. Beban pekerjaan, persoalan sosial, dan urusan personal sering kali bertumpuk tanpa jeda. Kemampuan menjaga keseimbangan hidup menjadi kunci agar guru tetap hadir secara utuh di kelas.
Guru yang mampu membangun batasan sehat, menyediakan ruang refleksi, dan merawat kesejahteraan diri akan memiliki energi lebih besar untuk mendampingi murid. Upaya pembenahan individu bukan untuk menambah beban, melainkan untuk merawat kembali esensi profesi guru. Ketika guru terus belajar, termotivasi, dan beradaptasi, pendidikan Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.





