Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada sesi pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026).
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada sesi pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026). Indeks jatuh 8 persen ke level Rp7.600 dengan saham-saham "konglo" menjadi pemberat utama.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) misalnya kembali menyentuh batas auto reject bawah (ARB) ke level Rp250. Senada saham PT Petrosea Tbk (PTRO) juga ARB ke Rp6.225 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) ARB ke Rp940.
Kondisi ini memaksa sistem perdagangan secara otomatis menetapkan suspensi alias trading halt selama 30 menit. Trading halt juga sempat terjadi pada perdagangan kemarin meski IHSG berakhir turun sebesar 7,3 persen.
Faktor utama yang menekan IHSG yakni keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan pasar saham Indonesia terkait isu transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Langkah ini menekan saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu hingga Bakrie yang disebut-sebut berupaya masuk indeks global tersebut.
Apa itu MSCI? MSCI merupakan perusahaan keuangan yang berpusat di New York, AS, yang membuat indeks saham global. Indeks buatan MSCI memiliki kredibilitas tinggi sehingga dipercaya oleh manajer investasi global hingga dana pensiun sebagai acuan utama untuk menanamkan modalnya.
MSCI membuat sejumlah indeks berdasarkan kawasan atau negara. Misalnya, MSCI Emerging Markets (EM) dengan keranjang yang berisikan saham-saham di negara berkembang. Selain itu, MSCI juga membuat MSCI Indonesia yang di dalamnya saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Peran MSCI sangat vital karena saham-saham yang keluar atau masuk indeks diikuti oleh banyak dana pasif (passive fund). Saham yang masuk indeks akan dibeli, begitu juga sebaliknya jika keluar akan dijual.
Dengan demikian, keputusan terbaru MSCI berdampak besar terhadap saham-saham yang memiliki keterkaitan kuat dengan dana asing, meski ada dampak tak langsung terhadap saham-saham lainnya.
MSCI berencana meninjau ulang status pasar saham Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Frontier Market (FM), sejajar dengan negara-negara seperti Bangladesh dan Zimbabwe.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisniawan mengatakan, pengumuman terbaru MSCI memicu keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia. Keputusan pembekuan berlaku langsung dalam review Februari 2026. Pada perdagangan kemarin, dana asing yang keluar mencapai Rp6,2 triliun.
"(MSCI) juga menyoroti risiko lanjutan bahwa perbaikan transparansi yang tidak memadai sampai Mei 2026 dapat berujung pada penurunan bobot, bahkan reklasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market," katanya dalam riset, Kamis.
Sementara itu, BEI merespons pengumuman MSCI dengan menyampaikan komitmen untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal. BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya juga akan berkoordinasi dengan MSCI.
Sejalan dengan hal tersebut, BEI berkomitmen meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI melalui berbagai langkah perbaikan struktural. Salah satunya dengan menyediakan informasi yang lebih akurat, andal, dan selaras dengan praktik terbaik global serta ekspektasi pemangku kepentingan internasional.
"Sebagai langkah konkret, BEI telah mengumumkan data free float saham secara komprehensif melalui situs resmi BEI sejak 2 Januari 2026. Ke depan, data tersebut akan disampaikan secara rutin setiap bulan," kata BEI.
Erindra menilai, keputusan MSCI tersebut terutama berdampak pada saham-saham seperti BUMI, PTRO, IMPC, dan DSSA. Selain itu, saham-saham yang selama ini menjadi koleksi asing juga ikut tertekan seperti BBCA, BMRI, hingga ASI.
Menurut Erindra, dalam skenario terburuk, Indonesia berpotensi kehilangan dana asing hingga USD15-USD20 miliar sejalan dengan bobot Indonesia dalam indeks MSCI sebesar 1,1 persen. Jika Indonesia masuk Frontier Market, dana asing yang masuk bakal jauh lebih kecil dibanding Emerging Market.
"Saham-saham berkapitalisasi besar dalam daftar 10 indeks MSCI teratas yang mencakup sekitar 80 persen kapitalisasi pasar saham Indonesia di indeks MSCI akan menjadi pihak yang paling terdampak dalam skenario rebalancing tersebut," ujarnya.
Erindra mendorong investor untuk berinvestasi di saham-saham fundamental, terutama dengan kepemilikan asing yang rendah. Sejumlah saham yang dinilai menarik di antaranya ANTM, AADI, ICBP, hingga JPFA.
"Selain risiko terkait MSCI dan arus dana, risiko utama pasar mencakup pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan domestik," katanya.
(Rahmat Fiansyah)




