EtIndonesia. Kasus tumbangnya Jenderal Zhang Youxia dan Liu Zhenli memicu perhatian luas. Sejumlah analis di luar negeri menilai bahwa perebutan kekuasaan di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memasuki tahap sangat panas.
Dalam jangka pendek, hal ini diperkirakan akan menurunkan kemungkinan PKT melancarkan serangan militer terhadap Taiwan. Namun demikian, tidak dikesampingkan bahwa Xi Jinping—demi kepentingan kekuasaan—dapat salah menilai situasi, terjebak dalam “self-hypnosis”, lalu mengambil keputusan bodoh dan gegabah yang justru mendorong Selat Taiwan menuju konflik.
Zhang Youxia yang berusia 75 tahun berasal dari kalangan “generasi merah kedua”. Ayahnya, Zhang Zongxun, adalah jenderal berpangkat tinggi pada masa perebutan kekuasaan PKT.
Zhang Youxia pernah dua kali terlibat dalam perang perbatasan Tiongkok–Vietnam. Sementara Liu Zhenli yang berusia 61 tahun juga pernah mengikuti perang Vietnam. Keduanya memiliki pengalaman tempur nyata.
Sumber internal mengungkapkan bahwa salah satu alasan kunci tumbangnya Zhang Youxia adalah karena ia secara tegas menentang penggunaan kekuatan militer terhadap Taiwan dalam waktu dekat pada pertemuan internal.
Ia menilai bahwa sistem pertahanan Taiwan berada tepat di bawah Israel dan bahkan lebih kuat dibanding Ukraina. Selain itu, kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat, Jepang, Australia, serta aliansi Lima Mata (Five Eyes) sangat tinggi.
Jika perang berkepanjangan dan tidak segera dimenangkan, hal itu berpotensi memicu gejolak besar di dalam PKT sendiri. Sikap ini dipandang Xi Jinping sebagai “menggoyahkan moral militer”, dan menjadi pemicu utama pembersihan terhadap Zhang Youxia.
“Xi Jinping sekarang ingin melakukan apa yang disebut sebagai operasi militer terhadap Taiwan, tetapi dalam pelaksanaannya kemungkinan akan kekurangan orang-orang yang memiliki pengalaman tempur nyata. Hal ini tentu akan mempengaruhi tindakan militernya terhadap Taiwan, bahkan mempengaruhi keseluruhan persiapan militer,” kata peneliti Madya Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Zhong Zhidong.
Pejabat keamanan nasional yang memahami sistem militer dan politik Tiongkok menyebutkan bahwa penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli secara bersamaan sama dengan mencabut “otak politik” dan “otak operasional” Tentara Pembebasan Rakyat.
Apalagi, posisi kepala staf sulit segera digantikan, sehingga dalam jangka pendek berpotensi menimbulkan terputusnya rantai komando dan kekacauan dalam operasi gabungan. Di wilayah berisiko tinggi seperti Selat Taiwan, risiko salah perhitungan pun meningkat.
“Dalam masalah ini, semua kemungkinan tetap terbuka. Perkembangan situasi terbaru menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan di dalam militer sangatlah sengit. Posisi Xi di dalam partai dan militer pasti akan sangat melemah. Ada kemungkinan ia bertindak nekat demi menunjukkan wibawa, tetapi kemungkinan yang lebih besar adalah Xi akan sibuk memperkuat posisinya di dalam militer dan menunda petualangan militer terhadap Taiwan,” kata ekonom Tionghoa-Amerika Wen Guanzhong.
Sementara itu, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Pertahanan di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Ziyun, menyatakan : “Pada dasarnya, perang di Selat Taiwan memang tidak mudah dan berisiko tinggi gagal. Bagi Xi Jinping yang sedang mengejar masa jabatan keempat, hal itu jelas tidak menguntungkan.”
“Kini setelah ia membersihkan para jenderal senior, kemampuan komando secara keseluruhan melemah, dan ke depan tidak ada figur matang yang siap digunakan. Karena itu, kemungkinan perang kembali menurun.”
Para pakar menilai bahwa meskipun tampak seolah Xi Jinping telah menguasai militer, posisinya sebenarnya sangat berbahaya.
“Sekilas Xi Jinping tampak memegang kendali atas militer, tetapi kenyataannya situasinya sangat berisiko. Pasukan yang tersisa seolah-olah telah didorong Xi ke sudut tembok. Apakah mereka akan nekat mengambil risiko besar, itu justru menjadi kekhawatiran utama Xi Jinping sendiri,” kata Su Ziyun.
Su Ziyun juga secara gamblang menyebutkan bahwa “laras senjata, kantong uang, alat kekerasan, dan alat propaganda” PKT kini sama-sama bermasalah—dan semua itu merupakan akibat dari Xi Jinping. Julukan yang diberikan rakyat kepadanya sebagai “akselerator utama” (yang mempercepat kehancuran) dinilai sangat tepat.
Laporan wawancara oleh wartawan NTDTV Tian Xin dan reporter khusus Luo Ya.





