Hujan deras, angin kencang, dan cuaca dingin tidak mampu menyurutkan semangat tim SAR gabungan dan relawan di lokasi longsor Desa Pasirlangu, Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Mereka pantang mundur mencari mereka yang hilang dan mendampingi yang bertahan hidup.
Hingga Rabu (28/1/2026) atau hari kelima pencarian, 3.229 relawan belum ingin beranjak pergi dari Pasirlangu. Mereka masih berjibaku dengan lumpur tebal dan material longsor. Alat berat hingga cangkul digunakan mereka untuk menemukan warga yang masih tertimbun tanah.
Sebelumnya, longsor besar menerjang Kampung Pasir Kuning, Kampung Babakan Cibudah dan Kampung Pasir Kuda di Pasirlangu. Sedikitnya 80 warga tertimbun material bersama rumah mereka. Sejak itu, pencarian besar-besaran pun dilakukan.
Pada Rabu, pencarian dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Terdapat lima lokasi pencarian di area terjadinya longsor. Saat itu, sejak hari pertama sudah 53 kantong jenazah yang dievakuasi dari lokasi itu.
Di antara ribuan orang tim SAR gabungan itu, terdapat Fredik Sinaga (30). Dia anggota Komunitas Relawan Independen asal Semarang, Jawa Tengah. Fredik datang bersama empat temannya dengan menggunakan mobil ambulans milik komunitas mereka tiga hari lalu. Perjalanan darat dari Semarang ke Pasirlangu menempuh jarak 380 kilometer.
Pagi itu, Fredik masih bersemangat mengayunkan cangkulnya. Sehari sebelumnya, pria yang bekerja sebagai teknisi di salah satu perusahaan penyedia jasa internet ini menemukan dua korban.
"Hujan dan angin kencang menjadi tantangan kami di lokasi ini. Mudah-mudahan cuaca segera membaik agar seluruh korban segera ditemukan, " harap Fredik.
Sekitar 100 meter, puluhan relawan dari Viking, salah satu komunitas bobotoh, julukan suporter Persib Bandung, juga berjibaku menggunakan cangkul mencari para korban. Sudah lima hari pengurus dan puluhan anggota Viking terjun di lokasi kejadian.
"Kami menerjunkan 30 anggota Viking ke lokasi longsor untuk menemukan para korban. Kami ingin menunjukkan bobotoh bukan hanya untuk sepak bola namun juga kemanusiaan, " ucap Cecep Somantri (38), salah satu pengurus Viking. Tidak hanya warga tertimbun, mereka juga menyelamatkan satwa yang terjebak material longsor.
Selain Viking dan komunitas relawan dari luar Jabar, tak ketinggalan para pelajar SMA dari Kota Bandung turut tergabung dalam tim SAR gabungan. Mereka berasal Perhimpunan Pendaki Gunung Gideon SMAN 1 Bandung.
"Kami bersama alumni terlibat dalam kegiatan pencarian selama lima hari terakhir. Kegiatan ini secara sukarela diikuti para pelajar anggota perhimpunan dari kelas 10 dan 11," ungkap Okta (17).
Bantuan para relawan tak hanya di lokasi pencarian korban namun juga di dapur umum. Tampak puluhan relawan menyiapkan ribuan porsi makanan bagi warga yang mengungsi dan tim SAR gabungan.
Di antara para relawan di dapur umum terdapat 24 koki dari Indonesia Chef Association (ICA). Di tengah kesibukan bekerja di restoran maupun hotel, mereka menyisihkan waktu untuk menyiapkan makan pagi, siang dan malam.
Rukanda Koswara dan David Cailleba, termasuk dua dari 12 anggota ICA yang terlibat selama beberapa hari terakhir di dapur umum. David berasal dari Perancis tapi telah bermukim di Bandung setahun terakhir.
David mengatakan, kali ini adalah pengalaman pertama baginya terlibat di daerah yang terdampak bencana alam. Sejak hari kedua pasca bencana, ayah dua anak ini terlibat di dapur umum sejak pagi hari.
"Sudah lama saya ingin merasakan menjadi relawan dan membantu masyarakat yang terdampak bencana," tuturnya.
Kepedulian tim SAR gabungan dan relawan di Desa Pasirlangu menunjukkan solidaritas kekuatan terbesar menghadapi musibah bencana alam.
Mereka rela meninggalkan rutinitasnya dan berjuang di tengah guyuran hujan dan udara dingin. Semangat mereka menguatkan para korban selamat agar segera pulih dari rasa trauma musibah ini.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5204248/original/029455300_1745995501-IMG_7186.jpeg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483947/original/097519800_1769408496-1769144454994.jpg.webp)