JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir Jakarta bukan semata akibat hujan deras, melainkan persoalan struktural yang terus berulang dan belum ditangani secara berkelanjutan.
Hujan lebat yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) menyebabkan ratusan rukun tetangga (RT) terendam, puluhan ruas jalan lumpuh, hingga memakan korban jiwa.
Meski intensitas hujan menjadi pemicu langsung, para pengamat menilai banjir Jakarta merupakan akumulasi masalah tata kota, tata ruang, pengelolaan air, dan perubahan iklim yang selama ini cenderung diabaikan.
Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia, M Aziz Muslim, menegaskan bahwa banjir Jakarta harus dilihat dalam perspektif historis dan struktural.
“Banjir di Jakarta itu sejatinya persoalan struktural dan kultural yang berulang karena tidak ditangani secara berkelanjutan,” ujar Aziz saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Baca juga: Macet Horor Jalan Daan Mogot Terulang Lagi, Banjir Bikin Warga Terjebak Berjam-jam
Menurut Aziz, sejak era kolonial Belanda, Jakarta memang sudah menghadapi persoalan banjir.
Kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah, bahkan sebagian berada di bawah permukaan laut, membuat kota ini secara alamiah rentan tergenang air.
Selain itu, Jakarta menjadi muara dari sedikitnya 13 sungai besar yang berhulu di wilayah Bogor, Depok, dan sekitarnya.
Ketika curah hujan ekstrem terjadi, baik di wilayah hulu maupun di Jakarta sendiri, kapasitas sungai dan drainase perkotaan dengan cepat terlampaui.
“Kalau kemarin kita lihat, curah hujan ekstrem jelas melebihi kapasitas drainase. Ditambah lagi dengan banjir rob di wilayah pesisir Jakarta Utara, ini memperparah kondisi karena air sudah tidak tertampung,” kata Aziz.
Tata Ruang yang Tidak TerintegrasiAziz menilai, persoalan banjir semakin rumit karena perencanaan tata ruang Jakarta tidak terintegrasi dengan pengelolaan air dan infrastruktur.
Alih fungsi lahan secara masif, terutama di kawasan resapan air, menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko banjir.
Ruang terbuka hijau semakin menyempit, sementara kawasan bantaran sungai dipenuhi permukiman padat yang mempersempit alur sungai.
“Kemampuan tanah untuk menyerap air jadi sangat terbatas. Bantaran sungai dangkal dan menyempit, sementara lahan hijau terus berkurang,” ujar dia.
Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur drainase yang tidak terawat.





