Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, tak hanya soal jual batik dan kebutuhan pokok. Di "jantung" pasar ini ada sebuah kios kecil yang berjualan beraneka ragam kopi.
Diberi nama Kios Hasanah, tempat ini mulai berjualan kopi sejak sebelum COVID-19 atau sekitar tahun 2019. Belakangan, kios ini ramai jadi pembahasan di media sosial. Pelanggannya makin ramai.
Membutuhkan ketelitian untuk menemukan kios tersebut. Untuk menuju ke sana pengunjung lebih mudah masuk melalui pintu timur Pasar Beringharjo.
Pengunjung akan melalui los pedagang daging dan ikan asin.
Setelah itu, akan melewati kios bumbu-bumbu pasar. Lalu tiba di kios-kios jamu dan rempah-rempah. Di antara kios itulah Kios Hasanah berdiri.
Ukurannya mungil sekitar 3 x 2,5 meter. Deretan toples kopi pun langsung tampak memenuhi kios.
"Sudah lama jual kopi dari sebelum COVID-19. Di sini juga tapi masih pada belum tahu," kata pemilik Kios Hasanah, Muhamad Karel Ichsan (20 tahun), ditemui di kiosnya, Kamis (29/1).
Kios ini milik ayah Karel, Kun Hariana, yang kebetulan hari ini belum hadir di kios. Dahulu kios hanya berjualan obat herbal saja.
Kun yang merupakan penggemar kopi lalu memutuskan untuk mulai berjualan di kiosnya. Namun jualan obat herbal tetap dipertahankan.
"Bapak itu meminati kopi. Akhirnya sampai sekarang jualan kopi," katanya.
Karel mengatakan ayahnya telah bekerja sama dengan petani kopi dari berbagai daerah. Kopi mentah dibeli lalu di-roasting di rumah sebelum dijual.
"Kopi dari berbagai daerah, meski belum se-Nusantara," katanya.
Kopi-kopi yang dijual contohnya robusta dari Temanggung, Merapi, hingga Menoreh. Sementara arabika ada Gayo, Menoreh, Kerinci, hingga Flores.
Biasanya penjual kopi memilih lokasi strategis atau estetik. Karel mengatakan ayahnya tak memikirkan tempat yang terpenting apa yang disukainya bisa juga dinikmati masyarakat luas.
"Di tengah-tengah pasar. Kita kopi grade 1. Harganya pun masih bisa bersahabat karena di lingkup pasar ya," katanya.
Bisa dibilang ini satu-satunya kios yang jualan kopi di Pasar Beringharjo.
"Saya belum riset. Sekilas cuma sini," tuturnya.
Harga kopi pun bervariasi. Paling murah Rp 20 ribu per 100 gram.
Namun, kopi ini tak bisa dinikmati langsung di sini karena ruang yang terbatas. Jika hanya sekadar mencicipi menurut Karel bisa.
"Kebutuhan tipis-tipis aja. Cicip-cicip," katanya.
Karel mengatakan pembeli malah banyak yang berasal dari luar daerah. Ada pula yang membeli untuk buah tangan.
"Liburan ke sini pengin ngerasain kopi apa sih yang ada di sini," ujarnya.




