Mexico City (ANTARA) - Buronan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, mengumumkan niatnya untuk segera kembali ke Venezuela guna turut serta dalam transisi politik dan "pembangunan negara baru."
"Segera, saya akan kembali ke Venezuela untuk bekerja sama dalam transisi dan pembangunan negara yang luar biasa, tempat anak-anak kita akan kembali," kata Machado dalam unggahan di X pada Rabu.
Dalam sebuah video, ia menyatakan bahwa negara tersebut sedang mengalami "saat-saat genting" dan pembebasan Venezuela akan berdampak pada seluruh Belahan Bumi Barat.
Machado mencatat bahwa transisi menuju demokrasi didukung oleh "negara-negara demokrasi utama di seluruh dunia," khususnya menyebut pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Machado juga menyebut pembebasan tahanan politik sebagai prioritas, dan menyatakan bahwa lebih dari 700 orang masih ditahan di negara itu karena alasan politik.
Pada 3 Januari, AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke New York.
Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili karena diduga terlibat dalam "narkoterorisme" dan menimbulkan ancaman, termasuk bagi AS.
Selama kehadiran mereka di pengadilan di New York, Maduro dan Flores menyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut.
Sumber: Sputnik-OANA
Baca juga: Rubio: AS tidak berencana untuk aksi militer lebih lanjut di Venezuela
Baca juga: AS pertimbangkan kehadiran permanen CIA di Venezuela
"Segera, saya akan kembali ke Venezuela untuk bekerja sama dalam transisi dan pembangunan negara yang luar biasa, tempat anak-anak kita akan kembali," kata Machado dalam unggahan di X pada Rabu.
Dalam sebuah video, ia menyatakan bahwa negara tersebut sedang mengalami "saat-saat genting" dan pembebasan Venezuela akan berdampak pada seluruh Belahan Bumi Barat.
Machado mencatat bahwa transisi menuju demokrasi didukung oleh "negara-negara demokrasi utama di seluruh dunia," khususnya menyebut pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Machado juga menyebut pembebasan tahanan politik sebagai prioritas, dan menyatakan bahwa lebih dari 700 orang masih ditahan di negara itu karena alasan politik.
Pada 3 Januari, AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke New York.
Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili karena diduga terlibat dalam "narkoterorisme" dan menimbulkan ancaman, termasuk bagi AS.
Selama kehadiran mereka di pengadilan di New York, Maduro dan Flores menyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut.
Sumber: Sputnik-OANA
Baca juga: Rubio: AS tidak berencana untuk aksi militer lebih lanjut di Venezuela
Baca juga: AS pertimbangkan kehadiran permanen CIA di Venezuela



