Bahayakah Bila Sering Melakukan Operasi Modifikasi Cuaca?

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Cuaca ekstrem yang ditandai hujan berintensitas tinggi melanda wilayah Jabodetabek sejak awal Januari hingga beberapa hari terakhir. Dinamika atmosfer pun menunjukkan potensi hujan masih akan berlanjut dengan intensitas yang signifikan.

Curah hujan tinggi di wilayah Jabodetabek ini telah memicu peningkatan risiko banjir, genangan, serta gangguan aktivitas masyarakat. Situasi ini mendorong pemerintah provinsi di wilayah terkait mengambil langkah antisipatif di luar pola penanganan konvensional, mengingat kapasitas sistem drainase dan pengendalian banjir berada pada titik rawan.

Salah satu upaya yang ditempuh adalah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi bencana. Operasi ini diharapkan mampu mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah sasaran sekaligus memberi waktu bagi daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak lanjutan cuaca ekstrem.

OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan.

Pelaksanaan OMC ini kemudian mulai banyak diperbincangkan di media sosial. Banyak narasi yang beredar di media sosial bahwa OMC yang dilakukan terlalu sering akan memiliki risiko dan seperti bom waktu. Dalam narasi yang beredar, OMC memiliki risiko bencana lain seperti membuat kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin).

Selain itu, OMC juga disebut dapat memindahkan atau menumpuk massa air di wilayah tertentu sehingga memicu banjir besar. Kekhawatiran lain yang muncul adalah anggapan bahwa OMC bisa menimbulkan rasa aman semu, seolah-olah persoalan cuaca ekstrem dapat sepenuhnya dikendalikan dengan intervensi teknologi.

Saat dimintai tanggapan, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tri Handoko Seto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (29/1/2026), mencoba meluruskan terkait narasi yang beredar tentang OMC tersebut.

Baca JugaMemodifikasi Cuaca, Menekan Risiko Bencana

“OMC yang dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim,” ujarnya.

Salah satu narasi yang diluruskan oleh BMKG yakni terkait dengan pembentukan kolam dingin. Menurut Seto, kolam dingin merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan.

Setiap hujan yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia pada dasarnya akan membentuk cold pool sebagai bagian dari proses atmosfer. Oleh karena itu, mengaitkan kolam dingin sebagai dampak berbahaya dari OMC dinilai keliru. Sebab, teknik penyemaian awan hanya bekerja pada awan yang sudah ada dan tidak menciptakan awan baru.

Selain itu, jika OMC mempercepat turunnya hujan, kolam dingin yang terbentuk tetap sama secara fisik dan kimiawi dengan kolam dingin dari hujan alami. Dari sisi energi, teknologi manusia saat ini juga belum mampu menciptakan massa udara dingin berskala besar karena modifikasi cuaca hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh.

Dua metode

BMKG juga meluruskan terkait narasi yang menyebut bahwa OMC memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi memicu banjir. Faktanya, OMC dirancang untuk melindungi wilayah strategis dari hujan ekstrem dan bukan memindahkan risiko ke kawasan lain.

Seto menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan melalui dua metode. Metode pertama ialah Jumping Process Method, yakni mendeteksi suplai awan dari laut, seperti Laut Jawa dan Samudra Hindia menggunakan radar cuaca. Awan tersebut kemudian disemai sebelum mencapai daratan agar hujan turun di perairan dan tidak menumpuk di wilayah daratan.

Baca JugaMengapa Jakarta Memerlukan Modifikasi Cuaca?

Metode kedua adalah Competition Method yang diterapkan pada awan yang tumbuh langsung di atas daratan atau in-situ. Penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan tanpa menghilangkannya agar tidak berkembang menjadi awan Cumulonimbus yang masif dan berpotensi menurunkan hujan sangat lebat.

Dengan dua pendekatan tersebut, Seto menegaskan bahwa OMC tidak bertujuan memindahkan hujan ke kawasan lain. Langkah ini justru dimaksudkan untuk mengelola distribusi hujan agar tidak jatuh dalam volume besar pada waktu dan lokasi yang sama.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan tetap menjadi faktor penentu terjadinya banjir. Hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an disebut berkontribusi besar terhadap berkurangnya daerah resapan sehingga meningkatkan kerentanan banjir saat hujan ekstrem terjadi.

Oleh karena itu, penataan lingkungan dinilai sebagai langkah paling utama yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Namun, di tengah tantangan perubahan iklim yang meningkatkan potensi hujan ekstrem, perlu juga upaya untuk melakukan penataan lingkungan sekaligus penguatan kapasitas modifikasi cuaca.

“Tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga. OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan,” kata Seto.

Pandangan berbeda

Pandangan berbeda terhadap OMC untuk mitigasi bencana disampaikan oleh Guru Besar Bidang Hidrodinamika Institut Teknologi Bandung (ITB) Muslim Muin. Ia tidak sependapat dengan pelaksanaan OMC karena memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan.

Menurut Muslim, salah satu kekhawatiran utama dalam OMC ialah potensi gangguan terhadap ocean conveyor belt, yakni sistem sirkulasi laut global yang membuat air laut di seluruh dunia terus bergerak. Secara sederhana, sistem ini bekerja karena perbedaan suhu dan kadar garam air laut, sehingga laut tetap hidup, tidak stagnan, dan tidak membusuk.

Jika keseimbangan tersebut terganggu, khususnya pada aspek salinitas, sirkulasi laut dapat melemah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ekosistem laut, tetapi juga dipandang turut berpotensi memperburuk perubahan iklim secara keseluruhan.

Selain berisiko, OMC juga dianggap tidak efektif sebagai solusi banjir. Fakta di lapangan menunjukkan banjir tetap terjadi meski curah hujan tidak ekstrem, yang menandakan persoalan utama bukan pada hujan, melainkan pada tata kelola air.

Baca JugaModifikasi Cuaca Efektif, tetapi Bukan Solusi Tunggal Pengendalian Banjir di Jakarta

Upaya yang seharusnya ditempuh adalah mengendalikan air sejak wilayah tangkapan atau hulu melalui perbaikan kondisi lingkungan, antara lain dengan menurunkan koefisien run off agar air hujan lebih banyak meresap ke tanah. Sementara itu, kawasan hilir juga perlu diperlakukan sebagai sistem polder dengan tanggul yang kuat dan terawat.

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, pelaksanaan OMC mencerminkan kompleksitas dalam mitigasi bencana hidrometeorologi khususnya di wilayah perkotaan. Namun tanpa pembenahan drainase, saluran air, dan perawatan tanggul, OMC hanya menjadi solusi jangka pendek yang berisiko, alih-alih menyelesaikan akar persoalan banjir.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PLTS Off-Grid dan BESS Sebagai Kunci Percepatan Transisi Energi di Indonesia
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
OCC Nilai Pengawasan Pajak 2026 Menguat, Ingatkan Pentingnya Pendekatan Tax Follows Accounting
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pencari Kerja di Lamongan Tertipu Lowongan Kerja Mengatasnamakan Perusahaan BUMN
• 50 menit lalurealita.co
thumb
Ini Alasan KPK Bakal Lakukan Jadwal Ulang Pemeriksaan Eks Menaker Hanif Dhakiri Terkait Kasus Pemerasan Izin TKA
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Seskab Teddy dan Gubernur Aceh Bahas Penyelesaian 4.000 Hunian Pascabencana
• 1 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.