SUMATRA Utara diproyeksikan mencatatkan deflasi minimal sebesar 0,56% secara bulanan pada Januari 2026 akibat penurunan harga pangan hortikultura. Penurunan drastis harga cabai merah yang mencapai 45% dinilai menjadi faktor utama yang meredam tekanan inflasi di awal tahun.
"Peningkatan pasokan komoditas pangan setelah pemulihan bencana besar November menjadi alasan utama harga pangan mengalami pelemahan seiring normalnya distribusi," ujar ekonom Universitas Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin, Kamis (29/1).
Selain cabai merah, komoditas penyumbang deflasi lainnya mencakup cabai rawit yang turun 13% serta bawang merah sebesar 15,4%. Harga minyak goreng curah dan gula pasir curah juga ikut melemah masing-masing sebesar 18,2% dan 6,6%.
Baca juga : Terendam Deflasi, Sumut Terancam Krisis Konsumsi di Juli
Kondisi paling ekstrem terjadi di Gunungsitoli dengan harga cabai merah yang kini hanya Rp33.750 per kilogram. Padahal, pada Desember lalu harga komoditas ini sempat meroket gila-gilaan hingga menyentuh Rp300 ribu per kilogram.
Meski harga daging dan emas masih merangkak naik, kekuatan deflasi dari sektor hortikultura tetap jauh lebih dominan. Pemulihan pasokan pascabencana November memastikan lonjakan harga pangan di akhir tahun lalu telah melewati titik puncaknya.
Potensi deflasi di wilayah Sumatra Utara diprediksi masih berpeluang berlanjut hingga periode Februari mendatang. Hal tersebut akan sangat bergantung pada seberapa besar realisasi deflasi yang dibukukan selama bulan Januari. (YP/E-4)


