Penulis: Clifa Patria
TVRINews, Jambi
Cuaca di perairan Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir. Ketinggian gelombang yang mencapai tiga meter membuat sebagian nelayan terpaksa membatalkan aktivitas melaut.
Angin kencang dan gelombang tinggi yang diperkirakan melanda sejumlah perairan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur mengakibatkan terganggunya aktivitas nelayan tradisional.
Saat cuaca ekstrem, sebagian besar nelayan tradisional di Bumi Sepucuk Nipah Serumpun Nibung terpaksa menyandarkan perahunya demi keselamatan.
“Cuaca buruk mulai dirasakan sejak akhir November hingga akhir Desember 2025. Kondisi tersebut berlanjut hingga saat ini," ujar salah seorang nelayan di Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Sulaiman.
Menurutnya, arah ombak umumnya datang dari utara, sementara arah angin sulit diprediksi akibat kondisi pancaroba yang disertai hujan.
Gelombang tinggi mulai dirasakan ketika kapal nelayan berada sekitar lima mil dari bibir pantai. Semakin ke tengah laut, kondisi ombak dinilai semakin berbahaya.
Dalam kesehariannya, rata-rata nelayan setempat menggunakan perahu berukuran tiga gross ton atau 3 GT untuk melaut. Dengan kondisi cuaca seperti sekarang, risiko kecelakaan laut dinilai cukup tinggi.
Akibat tidak dapat melaut, sebagian nelayan memilih beralih profesi sementara waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Editor: Redaktur TVRINews




