Pemerintah India membantah kabar merebaknya infeksi virus Nipah di negara bagian Benggala Barat. Hingga Selasa (27/1), otoritas kesehatan memastikan hanya ada dua kasus terkonfirmasi di negara bagian India timur itu. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya kewaspadaan negara-negara Asia dan penerapan skrining kesehatan di sejumlah bandara regional.
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga menyebut langkah pemeriksaan terhadap penumpang asal India di bandar udara di luar negeri sebagai respons berlebihan terhadap laporan awal yang belum terverifikasi.
Thailand dan Nepal, dalam beberapa hari terakhir, mengumumkan melakukan pemeriksaan kesehatan bagi pelancong dari Benggala Barat.
Hong Kong juga mengeluarkan pernyataan resmi pada Senin (26/01) dan mengatakan telah meminta informasi dari otoritas kesehatan India, sembari melakukan pemeriksaan terhadap penumpang asal Benggala Barat.
Klarifikasi jumlah kasusPemerintah India menegaskan bahwa hanya dua kasus yang dinyatakan positif, sejak laporan awal mencuat pada Desember lalu, hanya dua kasus yang terbukti positif melalui uji laboratorium lanjutan. Laporan awal yang menyebut lima kasus, menurut otoritas setempat, berasal dari hasil pemeriksaan pendahuluan yang kemudian direvisi.
Virus Nipah memiliki masa inkubasi empat hingga 21 hari. Dalam kasus ini, sebanyak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan dua pasien telah dikarantina. Mereka mayoritas tenaga kesehatan dan anggota keluarga.
Kantor berita ANI melaporkan bahwa negara bagian Kerala di India selatan telah mengalami sembilan wabah virus Nipah antara 2018 hingga 2025.
Pada 2018, lebih dari selusin orang meninggal dunia akibat virus ini. Sementara pada 2021, seorang anak laki-laki dilaporkan meninggal, memicu kewaspadaan luas di kalangan otoritas kesehatan.
Apa itu virus Nipah?Nipah merupakan virus zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Virus ini pertama kali teridentifikasi pada tahun 1999, saat terjadi wabah di peternakan babi di Malaysia dan Singapura. Meski paling sering ditemukan pada kelelawar buah, virus Nipah juga dapat menginfeksi hewan lain seperti babi, anjing, kambing, kuda, dan domba.
Menurut otoritas kesehatan Inggris, manusia dapat terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuhnya. Namun, banyak kasus infeksi pada manusia terjadi akibat konsumsi buah atau produk buah, seperti nira kurma mentah atau setengah difermentasi, yang terkontaminasi air liur atau limbah biologis kelelawar buah yang terinfeksi.
Penularan dari manusia ke manusia juga dapat terjadi, terutama melalui kontak dekat dengan penderita atau cairan tubuhnya.
Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah. Penanganan yang tersedia bersifat suportif, bertujuan meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Infeksi ini dapat menyebabkan demam, kejang, muntah, hingga gangguan pernapasan dan saraf.
WHO tetapkan Nipah sebagai penyakit prioritasOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan virus Nipah ke dalam daftar penyakit prioritas, karena berpotensi menyebabkan wabah cepat dengan tingkat kematian yang tinggi. Pemerintah India menyebutkan bahwa dua kasus terkonfirmasi tersebut terjadi pada Desember lalu dan seluruhnya berada di Benggala Barat.
Sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura, Hong Kong, Thailand, dan Malaysia, telah menerapkan pemeriksaan kesehatan di bandara sebagai langkah pencegahan penyebaran lintas negara. Di tengah kekhawatiran regional tersebut, para ahli menilai risiko penyebaran global virus Nipah tetap sangat terbatas.
Risiko mewabah dinilai sangat kecilDr. Kaja Abbas, profesor asosiasi epidemiologi dan dinamika penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine serta Universitas Nagasaki, mengatakan bahwa secara global jumlah kasus virus Nipah tergolong sangat sedikit.
"Sejak virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1999 hingga sekarang, jumlah kasus globalnya kurang dari 750," kata Abbas kepada DW.
"Ketika kami mengatakan global, kasus-kasus ini terutama terbatas di dua negara, yaitu India dan Bangladesh. Pada 1999 memang ada beberapa wabah di Singapura dan Malaysia, tetapi sejak 2001, dalam 25 tahun terakhir, sebagian besar kasus terjadi di India dan Bangladesh, dengan jumlah yang sangat sedikit."
Dia menjelaskan bahwa penularan virus Nipah sangat terbatas dan membutuhkan kontak tertutup yang lama serta intens. Namun, yang membuat virus ini berbahaya adalah tingkat kematiannya yang tinggi.
"Sekitar 40% hingga 70% orang yang terinfeksi virus Nipah dapat meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Itulah yang membuat virus ini sangat berbahaya, meskipun risiko penularannya rendah," ujarnya.
Tak sebanding dengan virus coronaAbbas menegaskan bahwa virus Nipah tidak sebanding dengan virus corona dalam hal potensi penyebaran. Dia menjelaskan bahwa angka reproduksi Nipah berada jauh di bawah satu, artinya satu orang yang terinfeksi rata-rata menularkan virus ke kurang dari satu orang lain.
"Dalam kasus virus corona, angka reproduksinya berada di kisaran dua hingga tiga, sehingga penyebarannya sangat cepat secara global," kata Abbas. "Sementara pada virus Nipah, penularannya cenderung berhenti dengan sendirinya."
Menurutnya, langkah-langkah pencegahan yang saat ini diterapkan, termasuk pelacakan kontak dan pemeriksaan kesehatan di bandara, sudah memadai. Bahkan di Benggala Barat, penyebaran virus dinilai sangat terbatas, dengan hampir 200 kontak erat telah dilacak dan seluruhnya dinyatakan negatif.
"Risiko penyebaran lintas negara tidak sepenuhnya nol, tetapi sangat, sangat kecil," kata Abbas.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadani
Editor: Rizki Nugraha
width="1" height="1" />
(ita/ita)




