Bisnis.com, JAKARTA — PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) kembali melanjutkan aksi pembelian kembali saham (buyback) seiring masih tersisanya dana buyback sebelumnya di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan. Hal ini seiring dengan sentimen aksi panic selling investor menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penangguhan sementara terhadap saham asal Indonesia.
Manajemen Allo Bank mengungkapkan perseroan telah menyelesaikan pelaksanaan buyback saham yang berlangsung sejak 30 Oktober 2025 hingga 29 Januari 2026. Dari program tersebut, masih terdapat sisa dana sebesar Rp60,65 miliar yang belum digunakan dan tetap berada dalam batas maksimum sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan keterbukaan informasi, sisa dana tersebut selanjutnya akan digunakan untuk melanjutkan buyback saham tahap berikutnya yang dijadwalkan berlangsung selama 30 Januari 2026 hingga 29 April 2026.
Aksi korporasi ini dilakukan mengacu pada POJK No.13/2023 dan POJK No.29/2023, serta Surat OJK No. S-102/D.04/2025, sehingga perseroan dapat melakukan buyback tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Pembelian kembali saham bertujuan menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja fundamental perseroan, sekaligus menjaga kepercayaan pemangku kepentingan di tengah volatilitas pasar," tulis manajemen perusahaan dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
Adapun, saham hasil buyback nantinya akan disimpan sebagai treasury stock sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Baca Juga
- Masih Tersisa Kuota, TBIG Lanjutkan Buyback Saham hingga 101 Juta Lembar
- Ashmore Asset Management (AMOR) Bakal Buyback Saham Rp7 Miliar
- Tunjukkan Sinyal Positif ke Pasar jadi Alasan RAJA Siapkan Buyback Saham
Dari sisi pendanaan, buyback saham akan menggunakan saldo laba ditahan. Perseroan menilai dampak aksi tersebut terhadap kinerja keuangan tidak material. Secara proforma, laba bersih, EPS, serta rasio profitabilitas seperti ROA dan ROE hanya mengalami perubahan yang sangat terbatas setelah pelaksanaan buyback penuh.
Manajemen Allo Bank juga menegaskan likuiditas dan permodalan perseroan tetap solid, dengan rasio kecukupan modal (CAR) masih berada pada level yang sangat kuat meskipun terdapat potensi penurunan akibat buyback saham.
Sebelumnya, BCA juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham (shares buyback) dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Rencana ini seiring dengan saham BCA yang ambles 6% ke level Rp7.025 per saham pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026).
Buyback dilakukan sebagai upaya mendukung stabilitas pasar modal, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan imbal hasil yang lebih optimal bagi pemegang saham.
Rencana buyback tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Maret 2026.
Apabila disetujui, pelaksanaan buyback akan berlangsung selama 12 bulan sejak tanggal persetujuan RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa aksi korporasi ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar modal.
“Periode shares buyback akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Hera dalam keterangan resminya, Rabu (28/1/2026).
Adapun nilai pembelian kembali saham ditetapkan sebesar-besarnya Rp5 triliun, termasuk biaya perantara pedagang efek serta biaya lain yang terkait. Jumlah saham yang dapat dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari modal disetor perseroan.
Majemen menegaskan, pelaksanaan buyback tidak akan mengakibatkan penurunan modal di bawah batas minimum sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kewajiban penyediaan modal minimum bank umum.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





