Bisnis.com, JAKARTA - Seiring kabar mengejutkan dari Amazon atas pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 16.000 karyawannya baru-baru ini, profesional berusia 40 tahun perlu semakin waspada dan mempersiapkan diri dengan baik.
Sekadar info, gelombang PHK Amazon ini bukan pertama kali. Oktober lalu, Amazon juga memutuskan memangkas hingga 14.000 karyawan. Dua langkah efisiensi ini berakar dari alasan yang sama: disrupsi teknologi dan penerapan akal imitasi (AI).
CEO Amazon Andy Jassy sempat mengakui penerapan AI akan mengubah struktur tenaga kerja perusahaan, "akan membutuhkan lebih sedikit orang untuk beberapa jenis pekerjaan, dan lebih banyak orang untuk jenis pekerjaan lain."
Tak heran, profesional yang kini berusia sekitar 40 tahun alias para generasi milenial awal, perlu mempersiapkan diri dengan baik untuk mempersiapkan masa depan. Terutama di tengah ancaman PHK atau paksaan pensiun dini.
Kalau tidak percaya, pengalaman para senior dari generasi baby boomer dan generasi x (Gen X) yang sudah merasakan secara langsung bisa jadi bahan renungan.
Salah satu studi pensiun Boston College yang dianalisis oleh Wall Street Journal tahun 2025 menyebut 14% warga Amerika Serikat (AS) di kisaran usia itu setidaknya pernah mengalami PHK sekali dalam 10 tahun terakhir, dan 4% di antaranya terkena PHK lebih dari sekali.
Baca Juga
- Amazon PHK 16.000 Karyawan, Imbas Efisiensi dan Investasi AI
- Wajib Tahu! Ini Hak Pekerja jika Kena PHK Menurut UU Cipta Kerja
- Danantara: Transformasi BUMN Tanpa PHK, Efisiensi Capai Rp30 Triliun
Bahkan, sekitar 24% dari para baby boomer dan Gen X yang pernah mengalami PHK, hingga kini tidak dapat menemukan pekerjaan baru.
Pendiri dan CEO Bombay Shaving Company Shantanu Deshpande mengungkap kekhawatiran serupa berdasarkan pendapatnya di Economic Times.
"Para profesional di usia 40-an sering kali memikul beban terberat. Keuangan anak-anak, orang tua, hingga cicilan rumah. Namun, mereka sekarang termasuk yang pertama kali diberhentikan ketika perusahaan melakukan restrukturisasi atau pengurangan karyawan," jelasnya, dilansir Bisnis, Kamis (29/1/2026).
Survei daring Economic Times dalam rangka menanggapi isu tersebut menghasilkan simpulan bahwa mayoritas pekerja percaya perencanaan awal, investasi keuangan yang disiplin, pendapatan tambahan yang besarannya mencapai 50% dari gaji merupakan kunci.
Sebagian lain menunjukkan di usia 40-an banyak profesional memasuki zona nyaman, dengan fokus bergeser ke keluarga, pendidikan anak, dan orang tua, sehingga menunda program peningkatan keterampilan pribadi atau mempelajari hal-hal baru.
Padahal, di tengah disrupsi yang didorong oleh AI dan otomatisasi, korporasi tentu memilih merekrut talenta baru yang hemat biaya ketimbang berinvestasi pada karyawan yang sudah ada dengan biaya tinggi.
Hal ini turut tergambar melalui studi perusahaan penempatan kerja global dan pelatihan eksekutif Challenger, Gray & Christmas.
Perusahaan yang berbasis di AS mengumumkan pemutusan hubungan kerja sebanyak 153.074 kali per Oktober 2025, peningkatannya mencapai 175% secara tahunan (yoy) dari 55.597 pemutusan hubungan kerja yang diumumkan pada Oktober 2024.
Hingga Oktober 2025, perusahaan telah mengumumkan 1.099.500 pemutusan hubungan kerja, meningkat 65% yoy dari 664.839 yang diumumkan dalam sepuluh bulan pertama tahun lalu.
Bahkan, angka ini masih naik 44% yoy dari 761.358 pemutusan hubungan kerja yang diumumkan sepanjang periode 2024.
Alhasil, PHK sepanjang tahun ini berada pada level tertinggi sejak 2020 alias ketika pandemi Covid-19, yakni tembus 2.304.755 pemutusan hubungan kerja diumumkan hingga Oktober.
Andy Challenger, Pakar dari Challenger, Gray & Christmas menjelaskan profesional yang diberhentikan pada penghujung 2025 bahkan cenderung kesulitan untuk segera mendapatkan peran baru, yang dapat semakin memperketat pasar tenaga kerja.
"Beberapa industri sedang melakukan koreksi setelah lonjakan perekrutan selama pandemi, tetapi hal ini terjadi karena adopsi AI, melambatnya pengeluaran konsumen dan perusahaan, serta meningkatnya biaya yang mendorong penghematan dan pembekuan perekrutan," ungkapnya.
Bahkan, Survei Ekspektasi Konsumen dari Federal Reserve Bank of New York terhadap 1.300 kepala keluarga di AS pun menjelaskan tren serupa, di mana ekspektasi kehilangan pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan baru di AS semakin memburuk.
Probabilitas rata-rata yang dirasakan untuk kehilangan pekerjaan dalam 12 bulan ke depan meningkat sebesar 1,4 poin persentase menjadi 15,2% responden. Angka ini di atas rata-rata 12 bulan sebelumnya sebesar 14,3%, dan peningkatan terjadi di seluruh kelompok usia dan pendidikan.
Rata-rata persepsi kemungkinan menemukan pekerjaan jika kehilangan pekerjaan pun turun sebesar 4,2 poin persentase menjadi 43,1%, mencapai titik terendah baru dalam seri survei ini.
Penurunan ini didorong oleh responden dengan pendapatan rumah tangga tahunan di bawah US$100.000 dan paling terasa pada mereka yang berusia di atas 60 tahun, serta mereka yang memiliki ijazah sekolah menengah ke bawah.




