Osaka Steel Hengkang, KRAS Ungkap Kondisi Pasar Besi Beton yang Tertekan

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyebut, kondisi pasar besi beton atau baja tulangan nasional tengah berada dalam tekanan berat akibat overkapasitas produksi dan masuknya produk impor berharga murah, yang memicu persaingan tidak sehat di dalam negeri. 

Corporate Secretary Fedaus mengatakan, penurunan pasar besi beton terjadi karena jumlah produsen yang terus bertambah hingga 60 pabrikan dengan produk serupa di Indonesia. Kondisi ini menciptakan persaingan harga yang sangat ketat.

"Produk-produk yang disebut besi beton itu sekarang market-nya sangat drop dan banyak sekali pabrik-pabrikan yang masuk ke Indonesia, ada kurang lebih 60 pabrikan besi beton di Indonesia sehingga persaingannya ketat," kata Fedaus kepada Bisnis, Kamis (29/1/2026). 

Tekanan tersebut diperparah oleh praktik perang harga yang tidak sehat. Dalam kondisi tertentu, terdapat produsen yang menjual produk di bawah standar pasar sehingga menekan perusahaan yang beroperasi sesuai ketentuan kualitas dan regulasi.

Kondisi pasar yang tertekan ini juga menjadi latar belakang berakhirnya kerja sama Krakatau Steel dengan Osaka Steel. Dalam kerja sama perusahaan patungan bernama Krakatau Steel Osaka, Krakatau Steel hanya memiliki kepemilikan saham sekitar 14%, sementara Osaka Steel sebagai pemegang saham mayoritas menguasai 86%.

“Karena kepemilikan kami kecil, dampaknya terhadap kinerja Krakatau Steel tidak signifikan. Namun, dari sisi bisnis, pasar besi beton memang sudah tidak bisa menopang keberlanjutan usaha,” jelasnya.

Baca Juga

  • Krakatau Steel (KRAS) Buka Suara soal Osaka Steel Hengkang dari RI
  • Osaka Steel Hengkang dari RI, Tutup Perusahaan Patungan dengan KRAS
  • Krakatau Steel (KRAS) Pasok Pipa Baja Proyek Gas Dumai

Menurut dia, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan kerja sama tersebut selama beberapa tahun. Namun, tekanan pasar yang berkepanjangan membuat keberlangsungan usaha menjadi tidak bisa dipertahankan hingga akhirnya pemegang saham mayoritas memutuskan untuk mengakhiri kerja sama.

Selain overkapasitas, banjir impor turut menjadi faktor yang memperburuk kondisi pasar. Produk besi dari luar negeri masuk dengan harga yang lebih murah, sementara perlindungan terhadap industri domestik dinilai belum optimal.

“Impor pasti berpengaruh. Ketika barang dari luar masuk dengan harga murah dan industri dalam negeri tidak dilindungi, maka yang terjadi adalah tekanan berat bagi produsen lokal,” tuturnya.

Dia menekankan bahwa efisiensi anggaran pemerintah memang berpengaruh terhadap permintaan, terutama dari proyek-proyek infrastruktur. Namun, faktor tersebut bukanlah penyebab utama melemahnya pasar.

“Efisiensi anggaran itu salah satu faktor, tapi bukan faktor mayoritas. Yang lebih penting adalah adanya parameter regulasi untuk melindungi industri dalam negeri,” katanya.

Krakatau Steel mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan trade remedies, seperti anti-dumping dan safeguard, agar industri baja nasional tidak tergerus oleh produk impor murah. 

Sebab, tanpa perlindungan yang memadai, industri baja dikhawatirkan akan mengalami nasib serupa dengan industri tekstil yang tertekan akibat serbuan impor.

Selain perlindungan, pengawasan terhadap SNI dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) juga dinilai krusial. Dengan banyaknya produsen di dalam negeri, kualitas produk yang beredar perlu dipastikan sesuai standar keselamatan dan lingkungan.

“Produksi dari puluhan pabrikan itu perlu dicek, apakah sudah memenuhi SNI, TKDN, dan kualitasnya. Menurut kami, pengawasan ini belum sepenuhnya berjalan optimal di lapangan,” ujarnya.

Akibat lemahnya pengawasan, pasar cenderung bergerak ke arah harga termurah, tanpa mempertimbangkan kualitas produk. Fenomena ini dinilai berisiko bagi keberlanjutan industri dan keselamatan konsumen.

“Yang terjadi, masyarakat membeli yang penting murah. Ini sama seperti yang terjadi di industri tekstil,” katanya.

Krakatau Steel menilai tanpa kebijakan perlindungan yang tegas dan pengawasan kualitas yang konsisten, tekanan di pasar besi beton akan terus berlanjut dan berpotensi menggerus daya saing industri baja nasional dalam jangka panjang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jembatan Bailey Rampung di Aceh, Anak-Anak Bisa Sekolah Lagi: Terima Kasih!
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Tembok Pembatas Mutiara Regency dan Mutiara City Akhirnya Dibongkar Pemkab Sidoarjo
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pendidikan Indonesia dan Pelajaran Sunyi dari Lena Pillars
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Terlibat Narkoba hingga Penganiayaan, 12 Anggota Polisi di Riau Dipecat
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Onad Akhirnya Hirup Udara Bebas Usai Jalani Rehabilitasi Selama 3 Bulan
• 18 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.