Kanguru Pohon: Satwa Asli Papua yang Aktif di Malam Hari

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Jika mendengar kata kanguru, bayangan banyak orang langsung melayang ke Australia. Padang rumput luas, tubuh tinggi, lompatan jauh. Namun jauh di timur Indonesia, di hutan hujan Papua yang lembap dan rapat, hidup kerabat kanguru yang sama sekali berbeda. Ia tidak berlari di tanah terbuka. Ia memanjat, bergelantungan, dan menghilang di kanopi. Namanya kanguru pohon, atau unijo dalam bahasa lokal Papua.

Kanguru pohon berasal dari genus Dendrolagus, kelompok marsupial yang berevolusi sejak era Pliosen hingga sekarang. Secara ilmiah, ia masih satu keluarga dengan kanguru darat, Macropodidae. Tetapi jalur adaptasinya berbelok tajam. Hutan hujan tropis memaksanya berevolusi menjadi penghuni pohon yang lincah dan senyap. Menurut Tim Flannery dalam Mammals of New Guinea (1995), tekanan lingkungan vertikal membentuk tubuh kanguru pohon secara radikal.

Tubuh kanguru pohon lebih pendek dan kompak. Kaki belakangnya tidak panjang seperti kanguru Australia, tetapi kuat dan fleksibel. Kukunya melengkung tajam, memungkinkan cengkeraman kuat pada batang pohon licin. Telapak kakinya lebar, kasar, dan empuk, berfungsi seperti bantalan alami. Ekor panjangnya bukan hiasan, melainkan alat keseimbangan utama saat melompat antardahan.

Bulu kanguru pohon tebal dan lembut, menyesuaikan suhu malam yang lembap. Warna bulunya bervariasi antarspesies. Ada yang cokelat kusam, ada yang merah kecokelatan, bahkan kuning keemasan. Pola warna ini membantu kamuflase di rimbun dedaunan. Colin Groves dalam Australian Mammalogy (2005) menyebut Papua sebagai pusat keanekaragaman kanguru pohon dunia.

Saat ini, ilmuwan mengenali lebih dari dua belas spesies kanguru pohon. Sebagian besar hidup di Papua dan Papua Nugini. Di Indonesia, spesies seperti dingiso, goodfellowi, mbaiso, seri, dan nemena masih bertahan di hutan pegunungan. Australia hanya memiliki dua spesies, yaitu Bennett dan Lumholtz. Persebaran ini menegaskan Papua sebagai rumah utama kanguru pohon.

Berbeda dengan kanguru darat yang aktif siang hari, kanguru pohon lebih aktif pada malam hari. Mereka sering disebut nokturnal ringan. Siang hari digunakan untuk beristirahat di cabang tinggi yang aman. Malam hari menjadi waktu mencari makan dan menjelajah. Roger Martin dan Mark Eldridge dalam Tree Kangaroos of Australia and New Guinea (2012) menjelaskan, aktivitas malam mengurangi risiko predator dan gangguan manusia.

Makanan kanguru pohon sepenuhnya berbasis tumbuhan. Mereka memakan daun muda, bunga, buah hutan, kulit kayu, dan tunas. Namun mereka sangat selektif. Tidak semua daun dimakan. Pilihan pakan bergantung kandungan nutrisi dan kemudahan cerna. International Fund for Animal Welfare mencatat perilaku ini dalam laporan konservasi 2019. Pola makan selektif membantu menjaga regenerasi vegetasi hutan.

Sebagai marsupial, sistem reproduksi kanguru pohon unik. Masa kehamilan betina sangat singkat, sekitar 44 hari. Anak lahir dalam kondisi sangat kecil dan belum berkembang sempurna. Ia langsung merangkak menuju kantung induk. Di dalam kantung, bayi menyusu dan tumbuh selama berbulan-bulan. National Geographic edisi Juli 2018 menjelaskan proses ini sebagai strategi bertahan hidup mamalia berkantung.

Anak kanguru pohon tinggal di kantung hingga usia sekitar tujuh bulan. Setelah itu, ia mulai keluar masuk untuk belajar mandiri. Proses penyapihan baru selesai sekitar usia 13 bulan. Pada umur 18 bulan, anak benar-benar mandiri dan membangun wilayah sendiri. Pola ini membuat laju reproduksi kanguru pohon sangat lambat.

Kehidupan yang lambat membuat kanguru pohon rentan terhadap gangguan. Satu induk hanya melahirkan satu anak per tahun. Jika induk mati akibat perburuan, satu generasi ikut hilang. Di alam, predator alami seperti piton dan elang sudah cukup berbahaya. Namun tekanan terbesar kini datang dari manusia.

Status konservasi kanguru pohon memprihatinkan. Daftar Merah IUCN tahun 2023 mencatat sebagian besar spesies berada dalam kategori rentan hingga kritis. Spesies seperti tenkile, wondiwoi, dan mantel emas masuk kategori sangat terancam punah. Populasinya menurun lebih dari 80 persen dalam 30 tahun terakhir, terutama akibat deforestasi dan perburuan.

Kisah kanguru pohon wondiwoi menjadi contoh paling dramatis. Spesies ini pertama kali dicatat Ernst Mayr pada 1928. Setelah itu, ia menghilang dari catatan ilmiah. Selama lebih dari 90 tahun, dunia menganggapnya punah. Hingga pada 2018, ekspedisi yang dipimpin Michael Smith berhasil memotretnya kembali di Pegunungan Wondiwoi. National Geographic melaporkan temuan ini sebagai salah satu penemuan satwa paling penting dekade terakhir.

Verifikasi dilakukan oleh para ahli, termasuk Mark Eldridge dari Australian Museum. Warna bulu, pola tubuh, dan ciri morfologi cocok dengan spesimen lama. Namun kegembiraan itu dibayangi kecemasan. Populasi wondiwoi diperkirakan sangat kecil dan terisolasi. Habitatnya sempit dan belum terlindungi penuh.

Di Papua, kanguru pohon memiliki posisi kompleks. Ia adalah satwa liar, simbol keanekaragaman hayati, sekaligus sumber protein tradisional. Mongabay Indonesia dalam laporan 28 Mei 2017 mencatat perburuan masih terjadi karena minimnya informasi. Banyak warga baru menyadari kelangkaannya setelah diberi edukasi.

Kanguru pohon bukan sekadar hewan lucu. Ia adalah indikator kesehatan hutan. Hilangnya kanguru pohon menandakan rusaknya ekosistem kanopi. Menjaga mereka berarti menjaga hutan Papua tetap bernapas. Di tengah krisis iklim dan deforestasi, unijo mengingatkan kita bahwa hutan bukan ruang kosong. Ia adalah rumah bagi kehidupan yang rapuh dan tak tergantikan.

Daftar Pustaka

Flannery, Tim. Mammals of New Guinea. Melbourne: Reed Books, 1995.

Groves, Colin P. “Order Diprotodontia.” dalam Australian Mammalogy. Canberra: CSIRO Publishing, 2005.

Martin, Roger, dan Mark Eldridge. Tree Kangaroos of Australia and New Guinea. Collingwood: CSIRO Publishing, 2012.

International Union for Conservation of Nature (IUCN). The IUCN Red List of Threatened Species. Pembaruan status Dendrolagus spp., 2023.

National Geographic. “Lost Tree Kangaroo Rediscovered in Papua.” National Geographic Magazine, Juli 2018.

Mongabay Indonesia. “Perburuan Masih Jadi Ancaman Serius Kanguru Pohon Papua.” 28 Mei 2017.

Wikipedia bahasa Indonesia. “Kanguru Pohon (Dendrolagus).” Ensiklopedia Bebas, diperbarui 2024.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polres Cimahi Imbau Warga Tidak Dekati Lokasi Longsor Cisarua
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pakar ITB Ungkap Penyebab Longsor Cisarua Bandung Barat
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Jelang Imlek 2026, Inilah 5 Cemilan Khas Imlek yang Sering Disajikan, Ada Biji Bunga Matahari Lho!
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Jumpa Pers Kasus Lula Lahfah, Polisi Wanti-wanti Gas N20 Tak Disalahgunakan
• 46 detik laludetik.com
thumb
Update Klasemen Liga Pro Saudi 29 Januari 2026: Al Hilal Kokoh di Puncak, Al Nassr Tercecer meski Menang Tipis?
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.