“Percuma kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi ibu rumah tangga,” begitulah kalimat yang kerap diucapkan kepada perempuan yang memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Kalimat ini sering dianggap wajar, bahkan dijadikan bahan bercanda. Ironisnya, ucapan semacam ini justru kerap datang dari orang-orang terdekat—entah itu teman, keluarga, bahkan sesama perempuan.
Di era yang semakin maju seperti saat ini, masyarakat menuntut individu untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Bukan tanpa alasan, pendidikan yang tinggi dapat menambah pengetahuan, memperluas wawasan, serta membuka relasi yang lebih luas. Selain itu, pendidikan juga dianggap mampu meningkatkan potensi, kemampuan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk masa depan. Namun, tidak sedikit orang yang kemudian menyederhanakan makna pendidikan seolah-olah pendidikan tinggi pasti harus berujung pada pekerjaan bergengsi dan penghasilan besar.
Berbeda dengan perempuan, laki-laki jarang dihadapkan pada kalimat, “Percuma kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi kepala rumah tangga.” Hal ini menunjukkan bahwa perempuanlah yang lebih sering dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang dianggap “menguntungkan” dari pendidikan yang telah ditempuh. Menguntungkan di sini kerap dimaknai secara sempit sebagai sesuatu yang menghasilkan uang. Karena itu, peran ibu rumah tangga sering dianggap tidak bernilai. Padahal, meski tidak digaji, tidak mendapat tunjangan, dan tidak memperoleh bonus, peran ibu rumah tangga justru memungkinkan terjadinya kerja publik. Banyak pekerjaan formal tidak akan berjalan tanpa adanya peran perempuan yang mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, dan mengatur keperluan rumah tangga. Ironisnya, perempuan diharapkan melakukan semua itu, tetapi ketika mereka benar-benar melakukannya terlebih setelah lulus kuliah, justru dianggap menyia-nyiakan pendidikan yang telah ditempuh.
Padahal, pendidikan bukan semata-mata tentang karier. Pendidikan membentuk cara berpikir kritis, empati, serta kemampuan mengambil keputusan. Setiap orang berhak memperoleh pendidikan yang layak dan tinggi, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan berpendidikan yang memilih atau menjalani peran sebagai ibu rumah tangga tidak otomatis membuat mereka “berhenti berpikir.” Justru dengan berbekal pendidikan yang tinggi dan berkualitas, perempuan dapat mengelola rumah tangga secara lebih baik dan bijaksana. Apalagi ada salah satu ungkapan yang mengatakan bahwa “Al-Ummu Madrasatul Ula” (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak), yang menegaskan bahwa peran perempuan dalam keluarga memiliki dampak besar dalam membentuk karakter, akhlak, dan nilai generasi selanjutnya yang lebih baik.
Stigma terhadap perempuan berpendidikan yang menjadi ibu rumah tangga pada akhirnya bukan lagi tentang pilihan hidup, melainkan tentang bagaimana cara masyarakat memaknai nilai, kesuksesan, dan peran perempuan. Selama pendidikan hanya diukur dari hasil ekonomi semata, selama itu pula kerja-kerja domestik—seperti menjadi ibu rumah tangga—akan terus diremehkan. Sudah saatnya kita berhenti mempertanyakan pilihan perempuan, dan mulai mempertanyakan standar sosial yang selama ini kita anggap wajar.




