GenPI.co - Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengatakan penentuan penyebab bencana banjir di berbagai wilayah Indonesia harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang transparan dan komprehensif.
IAGI menilai, penyimpulan secara terburu-buru yang langsung menunjuk pihak tertentu sebagai penyebab banjir berpotensi menyesatkan dan tidak menyentuh akar persoalan.
Ketua Umum IAGI Budi Santoso menilai bahwa secara keilmuan, banjir tidak tepat disederhanakan menjadi satu faktor atau langsung dikaitkan dengan aktivitas pihak tertentu tanpa kajian menyeluruh.
Menurut Budi, setiap kejadian bencana memiliki karakteristik yang berbeda dan harus dianalisis berdasarkan kondisi material penyusun wilayah sejak awal.
"Pendekatan yang digunakan harus bersifat multidisiplin. Faktor geologi, hidrologi, iklim, hingga aktivitas manusia perlu ditelusuri secara sistematis," ucap Budi, Kamis (29/1).
Budi mengaku pihaknya tidak mencari siapa yang disalahkan, tetapi memahami permasalahan secara objektif agar langkah mitigasi dan koreksi yang diambil benar-benar tepat sasaran.
Selain itu, Budi menjelaskan bahwa kondisi geologis suatu wilayah memiliki daya dukung yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, aspek geologi perlu menjadi rujukan utama menilai tingkat kerentanan dan risiko bencana di suatu kawasan.
Budi menyebutkan ada wilayah yang secara kasat mata masih memiliki tutupan vegetasi baik dan aktivitas manusia relatif minim, tetapi tetap mengalami banjir bandang.
"Kasus seperti itu harus dilihat secara objektif. Jangan langsung menyimpulkan penyebabnya tanpa memahami kondisi alamiah suatu wilayah," kata Budi.
Budi menilai perkembangan teknologi saat ini memungkinkan analisis yang lebih terukur dan akurat.
Pemanfaatan citra satelit bisa digunakan memantau perubahan kondisi wilayah dalam kurun waktu tertentu sebelum terjadinya bencana.
Hasil kajian tersebut dinilai penting tidak hanya untuk menjelaskan kejadian masa lalu, tetapi juga sebagai dasar perencanaan pencegahan bencana.(*)
Video seru hari ini:





