Bisnis.com, JAKARTA – Emiten peritel, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) menargetkan pertumbuhan gerai baru Alfamart di Tanah Air mencapai 800 unit pada 2026. Target ini turun dibandingkan realisasi penambahan gerai Alfamart sepanjang 2025 sebanyak 1.080 unit.
Direktur Sumber Alfaria Trijaya Solihin menerangkan bahwa dalam pembangunan gerai pada 2026, pihaknya tidak akan lagi fokus pada ekspansi di kawasan Jabodetabek. Beberapa kawasan lain di Indonesia yang belum terjamah bakal menjadi target ekspansi Alfamart.
“Saya bisa pastikan di luar Jakarta. Di Jakarta ada, tapi kecil. Kebanyakan wilayah [Indonesia] timur dan [Indonesia] tengah ya,” katanya kepada wartawan, Kamis (28/1/2026).
Selain itu, selepas mengakuisisi Lawson dari PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), Alfamart juga berencana untuk menambah sejumlah gerai Lawson. Solihin tidak menerangkan ke daerah mana Lawson akan berekspansi, tetapi pembukaan gerai Lawson pada tahun ini akan dilakukan dengan lebih hati-hati.
Saat ini, Alfamart tengah mengkaji target ekspansi Lawson. Hal itu penting untuk menakar besaran keuntungan Lawson jika memiliki sejumlah gerai baru nantinya, mengingat beberapa gerai Lawson telah ditutup pada tahun lalu.
“Kita sekarang ini mempertahankan [gerai] yang sudah ada nih. Dengan catatan sebisa mungkin yang ada ini, memberikan kontribusi keuntungan. Untuk buka toko pasti ada, tapi sangat selektif,” katanya.
Baca Juga
- Ekspansi Global, Alfamart (AMRT) Siap Bangun 100 Gerai di Bangladesh
- Lippo (MPPA) Tantang Alfamart-Indomaret Cs, Suntik Ritel Toko Mama
- Pendiri Alfamart Djoko Susanto Raih Penghargaan Mass Retail Network di BIG 40 Awards
Adapun, secara kinerja, Alfamart cenderung menerapkan target konservatif terhadap prospek pertumbuhan pendapatan perseroan pada tahun Kuda Api 2026.
Solihin menerangkan bahwa pihaknya memilih untuk tidak menetapkan target pertumbuhan tahunan hingga angka double digit pada tahun ini. Salah satu hal yang disorot Solihin adalah tren downtrading konsumen Tanah Air.
Hanya saja, sebagai peritel, tidak banyak yang dapat dilakukan Alfamart dalam rangka menyesuaikan harga jual. Solihin menegaskan, yang dapat dilakukan Alfamart dalam hal ini hanya memperbanyak produk yang dapat mereka jajakan di pasar.
“Di 2026 kalau estimasi, tahun ini kami harapkan bisa meningkat ya. Tapi saya pikir sampai saat ini kami belum berani untuk menargetkan 2 digit, masih di bawah 2 digit,” kata Solihin.
Berdasarkan laporan keuangan, AMRT sebenarnya mencatatkan pertumbuhan pendapatan neto 7,09% year-on-year (yoy) menjadi Rp94,47 triliun per kuartal III/2025, dibandingkan Rp88,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan AMRT di semua wilayah mencatatkan peningkatan.
Di Jabodetabek, pendapatan AMRT naik 3,11% yoy menjadi Rp25,46 triliun. AMRT juga mencatatkan pendapatan dari wilayah Jawa di luar Jabodetabek yang naik 3,96% yoy menjadi Rp34,83 triliun. Selain itu, pendapatan AMRT dari luar Jawa naik 14,84% yoy menjadi Rp36,68 triliun.
Pendapatan AMRT dari segmen makanan juga naik 7,15% yoy menjadi Rp66,82 triliun, sementara pendapatan AMRT dari segmen nonmakanan naik 6,96% yoy menjadi Rp27,64 triliun.
Akan tetapi, AMRT mencatatkan pembengkakan pada sejumlah pos beban. Tercatat, beban penjualan dan distribusi Alfamart naik dari Rp15,04 triliun menjadi Rp16,55 triliun. Ditambah, beban umum dan administrasi Alfamart naik dari Rp1,57 triliun menjadi Rp1,7 triliun.
Alhasil, laba usaha Alfamart susut dari Rp3,1 triliun per kuartal III/2024, menjadi Rp2,95 triliun per kuartal III/2025.





