REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Eduversal Foundation sukses menyelenggarakan Festival Sains dan Budaya 2026 yang dilaksanakan di Kampus Universitas Terbuka (UT) pada 20–23 Januari 2026. Sejak babak penyisihan sekitar 700 karya penelitian siswa dari 27 provinsi diperlombakan dan dari jumlah itu terseleksi menjadi 160 finalis yang melaju ke babak final.
Pada puncak acara, kegiatan dihadiri oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK), Prof Ojat Darojat, serta resmi ditutup oleh Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono.
Pada babak final, peserta mempresentasikan karya riset, inovasi, dan karya budaya dalam berbagai kategori. Dalam ajang ini Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (CRIBS) memborong berbagai medali dan penghargaan.
"Kami bangga karena ini wujud nyata implementasi pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang selama ini dikembangkan di CRIBS—mengintegrasikan riset, rekayasa, kreativitas, pemecahan masalah, dan komunikasi ilmiah," kata Kepala Sekolah SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Sandra Susanto, Kamis (29/1/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Penghargaan yang didapat CRIBS antara lain Best Poster melalui proyek 'SCOBIS – Smart Kombucha Biosensor for Ammonia Detection (Selulosa Bakteri SCOBY dari Fermentasi Teh Kombucha sebagai Matriks Biosensor Kitosan–Urease untuk Deteksi Amonia dalam Urin)' oleh Kenzie Ali Natapura dan M. Fahrianoor. CRIBS juga memperoleh Honourable Mention Biologi melalui proyek 'AvoGuard: Pengembangan Tabir Surya (Sunscreen) Berbahan Dasar Ekstrak Biji Alpukat sebagai Produk Pelindung Sinar UV yang Aman bagi Lingkungan' oleh Azmi Bahruddin Prasetya.
Penghargaan Honourable Mention Kimia melalui proyek 'ECOSPINE: Pengembangan Hidrogel Berbasis Kitosan dari Cangkang Kepiting dan Poliisoprena dari Getah Buah Nangka sebagai Material Alternatif Pengganti Bantalan Tulang Belakang (Diskus Intervertebralis)' oleh Fabyan Al Ghiffari Wibowo, serta Honourable Mention Komputer melalui proyek 'Elang Banjir: Perancangan dan Konstruksi Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis IoT dan Sensor Ultrasonik dengan Notifikasi GSM/Blynk' oleh Danish Albaihaqqi Harset dan Muhammad Hanif Anwari.
"Terima kasih kepada para pembina, guru, orang tua, dan seluruh tim yang mendampingi proses dari awal hingga final. Capaian ini menguatkan keyakinan kami bahwa pembelajaran berbasis STEAM menumbuhkan cara berpikir ilmiah, kreatif, dan kolaboratif," ungkapnya.
Pada kategori Environment, CRIBS meraih Bronze Medals melalui proyek “Integrasi Chlorella sp. – Bacillus subtilis sebagai Teknologi Bioremediasi Limbah Cair Rumah Potong Ayam” oleh Esad Bayram Arivamurti dan Emir Maulana Musthofa. Pada kategori Fisika, CRIBS meraih Silver Medals melalui proyek “Sel Surya Ramah Lingkungan Berbasis Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) dari Batok Kelapa Hitam dan Pigmen Antosianin dari Kulit Apel” oleh Valkean Ikram Permana dan Nadhim Muhammad Sulthan Sabhir. Di ranah budaya, CRIBS meraih Silver Medals Poem SMA OSEBI 2026 melalui Amrina Nur K.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa kerja ilmiah yang kuat lahir dari disiplin, ketekunan, dan keberanian menghadirkan gagasan solutif. Kami bangga siswa-siswi CRIBS mampu berkompetisi sekaligus membawa karya yang relevan dan berdampak,” ujarnya.
Dalam wawancara singkat, salah satu peraih penghargaan yakni Amrina menuturkan bahwa ia ingin pembaca dan penikmat puisi merasakan makna di balik karya yang dibawakan. Ia juga tertarik mengembangkan kemampuan monolog karena minatnya pada teater dan ingin menghadirkan emosi yang dapat dirasakan audiens. Dia mengaku berlatih dengan konsisten melalui teknik vokal suara perut, latihan mimik di depan kaca, dan penguatan artikulasi.
Peraih penghargaan lainnya, Esad dan Emir menjelaskan bahwa limbah cair Rumah Potong Ayam (RPA) menjadi isu yang kian nyata seiring tingginya konsumsi ayam, dengan kandungan organik, nutrien, minyak, dan lemak yang dapat meningkatkan BOD, COD, TSS serta menurunkan DO bila tidak diolah. Mereka memilih bioremediasi karena lebih ramah lingkungan: Chlorella sp. menghasilkan oksigen dan menyerap amonia-fosfat, sementara Bacillus subtilis menghasilkan enzim untuk menguraikan protein dan lemak.
Temuan mereka menegaskan sistem konsorsium lebih stabil dan efektif dibanding sistem tunggal, dengan teknologi yang sederhana, berbiaya rendah, dan berpotensi diterapkan pada RPA skala kecil–menengah. Mereka menekankan manfaat langsung berupa penurunan beban pencemar, pengurangan bau, dan perbaikan kualitas lingkungan sekitar.
Sedangkan, Valkean dan Nadhim yang meraih Silver Medals, menyampaikan bahwa proyek DSSC mereka berangkat dari gagasan menghadirkan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan memanfaatkan bahan yang mudah dijumpai. Pigmen antosianin dari kulit apel dipilih sebagai penyerap cahaya, sementara batok kelapa hitam dimanfaatkan sebagai material alternatif yang berkelanjutan.
Mereka menekankan pentingnya konsistensi proses mulai dari ekstraksi pigmen, perakitan, hingga pengujian, serta melihat peluang pengembangan pada aspek efisiensi, daya tahan, dan replikasi prototipe agar lebih stabil untuk penerapan lebih luas.
Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School terus berkomitmen menghadirkan pembinaan riset dan kompetisi sebagai ruang belajar nyata untuk menguatkan literasi sains, kreativitas, kolaborasi, karakter, dan kepemimpinan, sejalan dengan visi sekolah: Menjadi Sekolah Islam yang Mandiri, Unggul, Modern, dan Dinamis.



