Cerita Saksi di Sidang Ammar Zoni soal Dugaan Peredaran Narkoba dalam Rutan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Terdakwa kasus dugaan peredaran narkotika di dalam Lapas, Ammar Zoni, menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (29/1).

Kehadiran Ammar Zoni disambut oleh sang kekasih, dokter Kamelia, yang datang membawa putri kecilnya ke ruang sidang.

Agenda sidang kali ini menghadirkan tiga saksi ahli dan satu saksi meringankan (a de charge). Saksi pertama yang menjadi sorotan utama adalah Andri Setiawan, seorang pria yang pernah mendekam di Rutan Salemba atas kasus penggelapan. Andri baru mendapatkan bebas bersyarat pada Mei 2025.

Di hadapan majelis hakim, Andri mengungkap mengenai sistem pengawasan dan masifnya dugaan peredaran narkoba di dalam penjara tempat Ammar ditahan.

Saksi di Sidang Ammar Zoni soal Dugaan Peredaran Narkoba di Rutan Salemba

Dalam pernyataannya, Andri menjelaskan istilah rahasia yang digunakan dalam transaksi gelap di balik jeruji besi. Ia menyebut adanya struktur organisasi yang rapi untuk mengedarkan barang haram tersebut.

"Apotek kami itu ada beberapa pohon, 'pohon' itu BD (bandar). Dari masing-masing pohon itu punya anak buah atau apotek di blok-blok tertentu," kata Andri.

Andri merinci bagaimana jaringan ini tumbuh subur dalam waktu singkat. Menurutnya, saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Salemba, hanya ada satu bandar besar. Namun, jumlahnya ternyata melonjak drastis dalam hitungan bulan.

"Saat saya pertama kali ke Salemba itu, pohonnya cuma satu, inisialnya N. Satu bulan kemudian muncul beberapa pohon sekaligus. Waktu itu ada dua, inisial T dan inisial D. Kemudian Maret 2024, itu ada inisial lagi T. Kemudian ada inisial D lagi, itu bekerja sama dengan inisial A, tangan kanannya," tutur Andri secara detail.

Andri menjelaskan, ada klasifikasi barang yang beredar, yakni barang 'kordi' dan barang 'siluman'.

"Kebetulan saya tinggalnya di kamar apotik, jadi kalau peredaran narkoba, melancarkan, saya cukup mengenal. Ada dua jenis barang di dalam. Istilahnya ada barang 'kordi' dan barang 'siluman'. Yang membedakan, barang kordi itu sudah dapat izin diedarkan. Yang saya dengar sudah membayar kordi ke petugas lapas," ucap Andri.

Keterlibatan oknum petugas disebut Andri memiliki jadwal dan nominal tetap. Hal ini dilakukan agar bisnis "pohon" dan "apotik" tersebut bisa berjalan tanpa gangguan di blok-blok rutan.

"Saya di situ ada beberapa jadwal untuk mengedarkan kordi. Untuk kordi dengan pos jaga, petugas, kordi dengan yang lain ada jadwal dan nominalnya, Bang," ungkap Andri.

Mengenai transaksi keuangan, Andri membeberkan bahwa para pengedar jarang menggunakan uang tunai secara langsung. Mereka memanfaatkan teknologi e-wallet untuk memutar uang hasil dagangan yang jumlahnya mencapai angka fantastis.

"Kebanyakan pakai Sakuku, itu kayak e-wallet khusus BCA. Dari Sakuku orang hanya bisa transfer ke BCA. Kebetulan yang punya BCA jarang, jadi perputaran melalui rekening debit saya. Kalau omzet beda-beda, kalau yang di blok saya itu, satu minggu sekitar Rp 75 juta," ujar Andri.

Angka peredaran barangnya tak kalah mencengangkan. Andri memperkirakan bahwa mayoritas penghuni rutan adalah pengguna aktif, yang membuat permintaan narkoba di dalam lapas seolah tak pernah putus.

"Kalau dihitung, mungkin satu minggunya untuk apotek yang ramai dia bisa sampai dua kantong, satu kantong itu 100 gram. Itu per minggu. Kalau yang sepi mungkin seminggu hanya 25 gram. Cukup banyak, kalau saya boleh bilang 70-75 persen (di rutan) itu pemakai," tutup Andri.

Kesaksian ini diharapkan pihak kuasa hukum Ammar dapat memberikan gambaran objektif kepada hakim mengenai lingkungan tempat kliennya berada.

Sidang akan kembali dilanjutkan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi lainnya sebelum masuk ke tahap tuntutan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BPBD Kota Bogor Catat 17 Bencana dalam Dua Hari
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Wamenpar: Wisata Ramah Muslim Perkuat Daya Saing Indonesia di Tingkat Global
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Modus Korupsi Berubah, Penguatan KPK Jadi Keniscayaan
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Perpusnas Salurkan DAK Nonfisik Rp17,6 Miliar untuk Akselerasi Literasi di Jateng
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
42 RT di Jakarta Masih Banjir Malam Ini, Ketinggian Capai 1,2 Meter
• 21 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.