Iran melontarkan respons keras terhadap keputusan Uni Eropa yang melabeli Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) sebagai organisasi teroris. Pemerintah Iran menilai langkah tersebut sebagai bentuk “kemarahan selektif” dan provokasi yang justru memperkeruh ketegangan kawasan.
Melansir Al Jazeera, Jumat (20/1/2026), Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran menuduh Uni Eropa “menyulut api” di tengah situasi regional yang kian memanas. Ia menyebut keputusan tersebut sarat kepentingan politik dan penuh kemunafikan.
Dia menilai selama ini Eropa tidak mengambil tindakan apa pun atas perang Israel di Gaza, namun tergesa-gesa mengatasnamakan hak asasi manusia di Iran.
“Mengesampingkan kemunafikan terang-terangan dari kemarahan selektifnya, tidak bertindak sama sekali terhadap genosida Israel di Gaza namun bergegas ‘membela HAM’ di Iran. Aksi pencitraan Eropa ini terutama untuk menutupi kemerosotan perannya,” tulis Araghchi di media sosial.
Ia juga memperingatkan bahwa sikap Uni Eropa itu justru merugikan kepentingannya sendiri. Araghchi menilai perang terbuka di kawasan akan berdampak besar bagi Eropa, termasuk lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi.
Kecaman serupa disampaikan Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran. Mereka menyebut pelabelan IRGC sebagai organisasi teroris sebagai keputusan “tidak logis dan tidak bertanggung jawab”, serta menilainya sebagai “tanda jelas permusuhan terhadap bangsa Iran dan kedaulatan negara”.
Di sisi lain, Tohid Asadi koresponden Al Jazeera di Teheran, melaporkan bahwa eskalasi hubungan Iran–Uni Eropa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini berlangsung bersamaan dengan peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Kondisi itu memicu kekhawatiran akan potensi konfrontasi baru di kawasan.
Untuk diketahui, Donald Trump Presiden AS dalam beberapa pekan terakhir berulang kali mengancam akan menyerang Iran, dengan alasan penanganan protes domestik serta program nuklir Teheran.
Pada Rabu (28/1/2026) lalu, Trump bahkan memperingatkan bahwa armada besar AS sedang bergerak menuju Iran dan siap menggunakan “kekerasan” jika Teheran menolak berunding soal nuklir dengan Washington.
Ancaman itu langsung ditolak pejabat senior Iran. Mereka menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan dan menyatakan angkatan bersenjata Iran siap merespons “secara segera dan kuat” terhadap setiap kemungkinan serangan militer AS.
Sebagai catatan, pemerintahan Trump sebelumnya juga bergabung dengan Israel dalam serangan militer selama 12 hari terhadap Iran, tepatnya pada Juni tahun lalu, dengan menghantam tiga fasilitas nuklir utama. Trump kala itu mengklaim serangan tersebut telah “melumpuhkan” program nuklir Iran. (bil/ipg)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5323149/original/065174100_1755763451-ramadhan.jpg)